Gunung Anak Krakatau “Marah”

Lava Menyembur Seperti Air Mancur, Abu Sampai ke Ibu Kota

Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi dengan aktivitas kegempaan tinggi dan status berada pada Level III (Siaga).

intuisi.net- Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan wajah ganasnya. Sejak Jumat malam (4/9/2026), gunung api muda di tengah Selat Sunda ini menyemburkan lava pijar seperti air mancur, diiringi gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga pesisir Banten dan Lampung.

Erupsi menerus yang berlangsung berjam-jam akhirnya berhenti dini hari Minggu, namun sisa aktivitasnya masih memicu hujan abu yang menjangkau Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Sekilas tentang “Anak” Krakatau

Anak Krakatau lahir dari kehancuran. Setelah erupsi dahsyat Gunung Krakatau 1883 yang mengubah wajah Selat Sunda, aktivitas vulkanik di bawah laut mulai muncul kembali pada 1927–1930.

Perlahan, gunung baru tumbuh di tengah kaldera, dan kini dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Pada Desember 2018, longsor sebagian tubuhnya memicu tsunami yang menelan ratusan korban.

Sejak saat itu, gunung ini terus “membangun diri” lewat erupsi berulang. Statusnya dinaikkan menjadi Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.

Kronologi Erupsi Besar

Aktivitas meningkat signifikan sejak pertengahan tahun. Puncaknya terjadi Jumat, 4 September 2026, pukul 23.00-23.07 WIB.

Badan Geologi mencatat erupsi menerus disertai lava fountain, semburan lava merah menyala yang menyerupai air mancur. Amplitudo gempa mencapai 70 mm dengan durasi hingga 21.600 detik (sekitar enam jam).

Erupsi utama berhenti Minggu dini hari pukul 00.04 WIB. Setelah itu masih tercatat erupsi sporadis, antara lain pukul 03.53 WIB dan 07.10 WIB.

Tinggi kolom abu sering tak teramati karena cuaca, namun material pijar dan abu tetap terlontar.

Jenis Erupsi dan Karakteristik Lava

Erupsi ini bertipe Strombolian dengan ciri khas lava fountain.

Magma yang relatif encer (viskositas rendah) memungkinkan gas mendorong lava pijar ke udara secara terus-menerus, menghasilkan aliran lava, lontaran batu pijar, dan abu vulkanik.

Fenomena ini umum terjadi pada gunung api muda seperti Anak Krakatau dan merupakan bagian dari proses pertumbuhan tubuh gunung.

Dampak Abu Vulkanik

Abu menyebar luas ke lima provinsi. Berdasarkan data PVMBG, VAAC Darwin, dan citra satelit Himawari-9 BMKG:

  • Hingga ketinggian 20.000 kaki: bergerak ke arah timur laut–selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitar.
  • Hingga 50.000 kaki (sekitar 15 km): bergerak ke barat daya–barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda selatan, dan Samudra Hindia.

Suara dentuman dan getaran terasa hingga pesisir Banten, Lampung, bahkan sebagian Jawa Barat.

Untungnya, belum ada korban jiwa maupun perintah evakuasi massal. Potensi tsunami dinilai rendah karena tubuh gunung saat ini masih relatif kecil.

Penerbangan Terganggu

Sebaran abu memaksa penutupan sementara sejumlah bandara, termasuk:

  • Soekarno-Hatta (CGK)
  • Halim Perdanakusuma
  • Radin Inten II (Lampung)
  • Husein Sastranegara (Bandung)
  • serta beberapa bandara lain di sekitar Jabodetabek dan Lampung

Ratusan penerbangan terdampak. Di Soekarno-Hatta saja, lebih dari 200 pergerakan pesawat dibatalkan atau ditunda, memengaruhi puluhan ribu penumpang.

Maskapai diminta mempermudah proses refund dan pengalihan rute.

Imbauan Resmi Pemerintah

Badan Geologi/PVMBG menegaskan:

  • Masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki radius 3 kilometer dari kawah aktif.
  • Waspadai aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu lebat.
  • Status tetap Level III (Siaga). Evaluasi berkala akan terus dilakukan.

BNPB, BMKG, dan pemerintah daerah mengimbau:

  • Tetap tenang dan hanya merujuk informasi resmi.
  • Jika terkena hujan abu: gunakan masker (sebaiknya N95/KN95), kacamata pelindung, kurangi aktivitas di luar ruangan, tutup sumber air, basahi abu sebelum dibersihkan, dan berhati-hati saat berkendara.
  • Nelayan dan warga pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan.

Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan imbauan agar masyarakat tetap tenang, waspada, dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Pemerintah memastikan seluruh jajaran, dari BNPB, BMKG, TNI/Polri, hingga kementerian terkait terus memantau situasi.

Pemantauan intensif masih berlangsung dari Pos Pengamatan Gunung Api di Kalianda (Lampung) dan Pasauran (Banten).

Anak Krakatau mungkin masih akan “batuk” dalam beberapa waktu ke depan, namun dengan kewaspadaan dan informasi yang akurat, dampaknya dapat diminimalisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *