intuisi.net- Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang dinamis.
Sejak statusnya dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB, gunung api ini berulang kali mengalami erupsi skala kecil hingga menengah dengan kolom abu yang bervariasi.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat peningkatan aktivitas sejak awal Juni 2026.
Indikasi awal terlihat dari emisi gas SO₂, anomali panas di kawah, dan lonjakan gempa vulkanik dangkal.
Erupsi pertama pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB mengeluarkan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak.
Sejak saat itu, status dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Aktivitas Terkini
Sepanjang Agustus 2026, khususnya minggu ketiga dan keempat, erupsi terjadi berulang kali.
Pada 22 Agustus, tercatat sembilan letusan dengan tinggi kolom abu 200–400 meter.
Dua hari kemudian, 24 Agustus, terjadi enam erupsi beruntun pagi hingga siang dengan tinggi 200–250 meter, diikuti rangkaian erupsi malam hari. Bahkan dalam rentang sekitar 19–24 jam, jumlah erupsi sempat mencapai puluhan kali.
Erupsi-erupsi tersebut umumnya menghasilkan kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal, condong ke arah barat, barat laut, atau barat daya. Beberapa di antaranya disertai material pijar.
Aktivitas ini bersifat fluktuatif: kadang meningkat tajam, kadang mereda, namun tetap berada dalam rentang yang dipantau intensif 24 jam oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau.
Hingga akhir Agustus 2026, status Level III (Siaga) masih berlaku. PVMBG menekankan bahwa Gunung Anak Krakatau belum pernah mencapai Level IV (Awas).
Potensi bahaya utama saat ini adalah lontaran material pijar, hujan abu, dan aliran lava di sekitar kawah, bukan longsoran besar seperti yang memicu tsunami 2018.
Tinggi gunung saat ini sekitar 157 meter di atas permukaan laut, jauh lebih rendah dibandingkan sebelum longsor 2018.
Rekomendasi Resmi
Masyarakat, nelayan, wisatawan, dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Rekomendasi ini berlaku untuk mengurangi risiko lontaran material vulkanik.
Informasi radius 5 km yang sempat beredar sebelumnya tidak sesuai dengan rekomendasi resmi terkini.
PVMBG mengimbau masyarakat untuk:
- Tetap tenang dan tidak panik.
- Hanya mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi/PVMBG melalui kanal MAGMA Indonesia (magma.esdm.go.id), akun resmi, atau instansi terkait seperti BPBD.
- Tidak menyebarluaskan informasi atau video yang belum terverifikasi.
- Meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan abu, terutama jika arah angin mengarah ke daratan.
Konteks Sejarah Singkat
Anak Krakatau (“Anak Krakatoa”) muncul di dalam kaldera sisa erupsi dahsyat Krakatau 1883.
Sejak muncul ke permukaan pada akhir 1920-an, gunung ini berada dalam fase konstruksi (membangun tubuhnya).
Erupsi 2018 yang disertai longsoran tubuh gunung menyebabkan tsunami di pesisir Selat Sunda.
Setelah itu, gunung kembali tumbuh secara bertahap dengan aktivitas yang bersifat episodik.
Saat ini, aktivitas yang berlangsung sejak Juli 2026 merupakan fase erupsi berulang skala rendah hingga menengah yang masih dalam pengawasan ketat.
PVMBG terus memantau melalui jaringan seismik, deformasi, pengamatan visual, dan data satelit.
Masyarakat di sekitar Selat Sunda, khususnya pesisir Lampung Selatan dan Banten, diminta tetap waspada namun tidak perlu khawatir berlebihan selama rekomendasi zona aman dipatuhi.
Informasi terkini dapat diakses melalui MAGMA Indonesia atau akun resmi Badan Geologi.












