Batam, intuisi.net- Bagi Amsakar Achmad, air bersih bukan sekadar isu teknis. Itu adalah komitmen yang ia pertaruhkan secara terbuka di hadapan warga.
Jumat (4/9/2026), Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam itu memilih turun langsung ke Kavling Sagulung Berseri, Kelurahan Sei Lekop.
Bukan sekadar kunjungan simbolis. Ia duduk bersama warga RW 8 RT 3 dan RT 5, mendengarkan keluhan yang selama ini hanya sampai di laporan.
Di RT 3 yang dihuni sekitar 21 kepala keluarga dan RT 5 dengan 45 KK, total hampir 65 keluarga mengaku aliran air sering terbatas bahkan mati total.
Gangguan ini terjadi di tengah proses perbaikan dan relokasi pipa utama berdiameter 800 milimeter di Muka Kuning yang masih memengaruhi distribusi.
Amsakar tidak memberikan janji manis. Ia langsung memberikan instruksi tegas kepada jajaran Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam dan PT Air Batam Hilir (ABHi).
“Penyelesaiannya memang membutuhkan waktu, tetapi selama proses itu berjalan, suplai melalui mobil tangki harus tetap dilakukan. Tidak ada cerita, ini harus selesai,” ujarnya di hadapan warga dan jajarannya.
Kalimat “tidak ada cerita” itu bukan retorika. Itu adalah pernyataan bahwa ia mempertaruhkan kredibilitas dan jabatannya.
Ia meminta armada tangki dihitung secara akurat, distribusi dijadwalkan dengan rapi, dan menjangkau titik-titik yang paling membutuhkan. Tidak boleh ada warga yang dibiarkan menunggu tanpa kepastian.
Namun, Amsakar juga memahami bahwa mobil tangki hanyalah solusi sementara. Karena itu, BP Batam mempercepat penguatan jaringan pipa secara menyeluruh.
Wilayah yang masuk prioritas tidak hanya Sei Lekop dan Sagulung Baru (Saguba), tetapi juga Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong, hingga kawasan Marina seperti Fantasy Residence, Galaxy, Jupiter, dan sekitarnya.
BP Batam menjelaskan, gangguan distribusi di sejumlah kawasan itu tidak semata-mata karena pekerjaan di Muka Kuning.
Sebagian wilayah berada di ujung jaringan distribusi (end of line), sementara beberapa kawasan memiliki elevasi lebih tinggi. Akibatnya, tekanan air yang diterima warga menjadi lemah.
Solusi jangka panjangnya adalah penguatan jaringan primer, sekunder, dan tersier agar debit dan tekanan air sampai ke ujung-ujung sistem.
Target yang ditetapkan cukup jelas. Untuk Sei Lekop dan Saguba, penguatan jaringan ditargetkan rampung paling lambat November hingga Desember 2026.
Sementara penguatan jalur menuju Tanjung Sengkuang, Batu Merah, dan Bengkong melalui Segmen Sukajadi – M3G serta Ozon – Bukit Senyum ditargetkan selesai pada September 2026.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano menegaskan pendekatan yang diambil bersifat dua arah.
“Target kami bukan hanya memastikan air tersedia hari ini, tetapi juga membangun sistem jaringan yang semakin kuat agar persoalan tekanan air di kawasan ujung bisa terselesaikan,” kata Denny.
BP Batam bersama PT Air Batam Hilir juga berkomitmen menyampaikan perkembangan distribusi air dan progres penguatan jaringan secara berkala kepada masyarakat.
Transparansi menjadi bagian dari cara mereka menjaga kepercayaan publik.
Kunjungan Amsakar ke Sei Lekop memperlihatkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia tidak menunggu laporan lengkap di meja.
Ia memilih hadir, mendengar, lalu memberikan perintah yang tegas dan terukur.
Dalam persoalan air bersih yang menyentuh kebutuhan paling dasar warga, ia memilih mempertaruhkan nama dan jabatannya.
Bagi warga Sei Lekop dan kawasan terdampak lainnya, pesan itu cukup jelas: pemerintah hadir, dan komitmen terhadap air bersih tidak akan dibiarkan menjadi sekadar janji.












