Polemik Proyek Siluman Pulau Kasu Memuncak

Ribuan Warga Serbu Kantor LIRA Kepri

Warga Pulau Kasu Unjuk Rasa di Kantor LIRA Kepri, Desak Klarifikasi dan Maaf Atas Pernyataan Proyek Siluman

Batam, intuisi.net-  Suasana depan Kantor Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kepulauan Riau di kawasan Batam Centre (atau Bida Asri) memanas pada Senin (15/6/2026) pagi hingga siang.

Ratusan hingga ribuan warga Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, beserta masyarakat dari pulau-pulau hinterland lain seperti Tanjung Riau, mendatangi kantor tersebut untuk memprotes unggahan media sosial Gubernur LIRA Kepri, Yusril Koto.

Massa yang datang menggunakan truk dan iring-iringan dari Pelabuhan Tanjung Riau, Sekupang, mulai berkumpul sekitar pukul 10.00 WIB.

Mereka membawa spanduk, poster, dan perangkat orasi, menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap pernyataan Yusril Koto yang menyebut dugaan adanya “proyek siluman” atau proyek fiktif/pembangunan tidak transparan di Pulau Kasu.

Warga menilai pernyataan tersebut mencemarkan nama baik masyarakat pulau, merendahkan martabat nelayan dan penduduk pesisir, serta memicu keresahan sosial.

Aksi Semakin Memanas

Aksi sempat tegang ketika massa mengetahui Yusril Koto tidak berada di lokasi karena sedang di luar daerah.

Beberapa demonstran naik ke bangunan ruko, menurunkan spanduk LIRA, dan melempar batu hingga memecahkan kaca lantai dua kantor.

Aparat kepolisian yang mengerahkan puluhan personel dengan tameng, pagar betis, dan water cannon berhasil mengendalikan situasi sehingga tidak meluas.

Wakapolresta Barelang, AKBP Fadli Agus, turun langsung menenangkan massa.

Koordinator aksi dan perwakilan massa, seperti Dani dan Jaya, membacakan lima tuntutan utama dari atas mobil komando:

  1. Yusril Koto segera memulihkan nama baik masyarakat Pulau Kasu dan warga pulau-pulau Batam.
  2. Pihak kepolisian mengusut tuntas dugaan pelanggaran UU ITE atas unggahan tersebut untuk menjaga stabilitas Kota Batam.
  3. Yusril Koto menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat.
  4. DPP LSM LIRA mencopot Yusril Koto dari jabatan Gubernur LIRA Kepri.
  5. Yusril Koto diusir dari Batam karena dianggap kerap membuat kegaduhan.

Setelah menyampaikan aspirasi, massa membubarkan diri secara tertib. Sebagian perwakilan melanjutkan ke Polresta Barelang untuk melaporkan kasus tersebut.

Latar Belakang Kontroversi

Protes ini bermula dari unggahan Yusril Koto di media sosial  yang menyoroti dugaan proyek tidak transparan atau “siluman” di Pulau Kasu, termasuk isu peruntukan lahan dan pembangunan di wilayah Belakang Padang.

Warga menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan dianggap sebagai fitnah yang melukai kehormatan komunitas pulau.

Mereka telah memberi waktu klarifikasi, namun merasa tidak mendapat respons memadai.

Yusril Koto sendiri disebutkan merespons dengan santai dan menduga aksi tersebut ditunggangi oknum tertentu, sambil tetap menekankan pentingnya transparansi pembangunan.

Respons dan Harapan Masyarakat

Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat aparat, dan warga mengapresiasi upaya polisi menjaga kondusifitas.

Peristiwa ini mencerminkan sensitivitas isu pembangunan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Batam, di mana masyarakat sering merasa terpinggirkan atau dicap negatif.

Tim media menghimbau semua pihak untuk menjaga ketenangan, menghormati kebebasan berpendapat, serta menyelesaikan polemik ini melalui jalur hukum dan dialog yang konstruktif.

Transparansi proyek pembangunan tetap menjadi kebutuhan mendesak demi kesejahteraan masyarakat Pulau Kasu dan sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *