Batam, intuisi.net- Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri, pelabuhan, dan lalu-lalang pekerja migran, ada satu wajah Batam yang jarang dilirik media nasional: wajah religius yang hangat, meriah, dan terus tumbuh.
Malam Minggu, 2 Agustus 2026, halaman Masjid Agung Raja Hamidah Batam Centre berubah menjadi lautan manusia.
Belasan ribu jamaah dari berbagai penjuru kota memadati area masjid hingga meluber ke kanan-kiri.
Mereka datang bukan karena undangan pejabat, bukan karena gratis, melainkan karena satu hal: rindu pada shalawat.
Itulah Kepri Bershalawat 3 bertema “Malam Cinta Rasul, Cinta Negeri”.
Acara yang dipimpin Habib Syeikh bin Abdul Qodir Assegaf bersama Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf ini menjadi puncak dari rangkaian yang sudah berjalan beberapa tahun.
Dari sini, kita bisa melihat tiga bukti kuat bahwa masyarakat Batam justru sangat religius.
1. Antusiasme yang Melebihi Ekspektasi: Dari Ribuan Jadi Belasan Ribu
Organisasi panitia dan pengamat di lapangan sepakat: jumlah jamaah Kepri Bershalawat 3 tahun ini menjadi yang terbesar sejak digelar.
Area yang sebelumnya masih longgar kini penuh sesak. Jamaah datang jauh-jauh hari, membawa keluarga, tetangga, bahkan orangtua yang sudah sepuh.
Ini bukan fenomena sesaat. Sejak 2022, Batam sudah rutin digelar Batam Bersholawat dan Kepri Bersholawat. Setiap digelar, partisipasi terus naik.
Masyarakat tidak hanya datang, tapi ikut melantunkan Sholawat Nariyah bersama Habib Syeikh dengan suara yang menggema hingga keluar kompleks masjid.
Di kota yang dikenal sebagai “pintu gerbang investasi”, fakta ini menyentuh.
Orang-orang yang sehari-hari bekerja di pabrik, pelabuhan, atau kawasan industri, malam itu berdiri berdampingan, menangis, dan berdoa bersama.
2. Provinsi Bershalawat Lahir dari Semangat Masyarakat, Bukan Sekadar Seremonial
November 2025, di Tanjungpinang, Gubernur Ansar Ahmad secara resmi menetapkan Kepulauan Riau sebagai Provinsi Bershalawat. Keputusan itu tidak lahir di ruang rapat kosong.
Ia lahir setelah melihat antusiasme masyarakat di berbagai daerah, terutama Batam yang selalu menjadi magnet jamaah terbesar.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang hadir di Kepri Bershalawat 3 menegaskan hal yang sama: perbedaan suku, bahasa, dan budaya di Kepri justru disatukan oleh shalawat.
Habib Syeikh sendiri mengakui, “Saya bangga. Berbeda suku, bangsa, etnis, dan budaya, tapi kita satu dalam lantunan shalawat.”
Batam menjadi contoh nyata. Di kota yang dijuluki “Indonesia kecil” karena keragaman suku dan etnis, shalawat menjadi bahasa pemersatu yang paling efektif.
3. Tokoh Nasional, Forkopimda, dan Masyarakat Biasa Berdiri Sama Rata
Malam itu, bukan hanya tokoh agama yang hadir.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Anggota DPR RI Endipat Wijaya, Anggota DPD RI Ismeth Abdullah, Ketua DPRD Kepri Iman Sutiawan, Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura, Kapolda Kepri Asep Safrudin, serta jajaran Forkopimda lainnya ikut duduk di antara jamaah.
Tidak ada sekat. Pejabat dan rakyat biasa sama-sama berdiri saat melantunkan Indonesia Raya, 17 Agustus, dan Garuda Pancasila di akhir acara. Simbol yang sangat kuat: cinta Rasul dan cinta negeri berjalan seiring.
Ini bukan acara yang dipaksakan dari atas. Justru sebaliknya. Tokoh-tokoh nasional datang karena diajak masyarakat dan tokoh lokal yang terus “mengganggu” Habib Syeikh agar mau kembali ke Batam.
Batam sering digambarkan hanya sebagai kota pekerja, kawasan industri, dan tempat transit. Narasi itu tidak salah, tapi sangat tidak lengkap.
Di balik mesin pabrik dan kapal yang sandar, ada jantung yang berdenyut dengan shalawat. Ada belasan ribu orang yang rela berdiri berjam-jam hanya untuk melantunkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”.
Ada provinsi yang secara resmi menyebut dirinya “Provinsi Bershalawat” karena melihat kenyataan di lapangan.
Kepri Bershalawat 3 bukan sekadar event keagamaan. Ia adalah cermin.
Cermin bahwa di tengah modernisasi dan industrialisasi yang kencang, masyarakat Batam justru memilih untuk semakin dekat dengan Rasulullah SAW. Dan itu, lebih dari sekadar statistik. Itu adalah identitas.












