Selat Hormuz Terbuka, Rupiah Ikut Menguat

Minyak Mentah Murah Redam Inflasi dan Tekanan Rupiah

Rupiah stabil terhadap dolar Amerika

intuisi.net-   Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terus menunjukkan ketahanan dan tren penguatan yang konsisten di tengah gejolak pasar keuangan global sepanjang Juni 2026.

Setelah sempat menyentuh level lemah di kisaran Rp18.000-an per Dolar AS pada awal bulan, Rupiah kini bergerak stabil di kisaran Rp17.900–Rp17.950 per USD (per 25 Juni 2026), mencerminkan pemulihan kuat yang didukung kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Menurut data terkini, USD/IDR berada di level 17.923–17.939, menguat sekitar 0,2–0,3% dalam sesi perdagangan terbaru. Penguatan ini berlangsung meski Indeks Dolar AS (DXY) tetap solid, berkat faktor domestik yang dominan.

Faktor Pendorong Penguatan Rupiah

Bank Indonesia memainkan peran sentral melalui:

  • Kenaikan BI-Rate yang prudent dan intervensi valas intensif di pasar spot, DNDF, serta NDF offshore.
  • Pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas yield dan likuiditas.
  • Cadangan devisa yang tetap memadai (sekitar USD148 miliar).

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan optimisme penguatan Rupiah akan berlanjut di semester II 2026, didukung fundamental ekonomi Indonesia yang resilien.

Dampak Pembukaan Selat Hormuz dan Penurunan Harga Minyak

Salah satu katalis positif terbaru adalah pembukaan kembali Selat Hormuz menyusul kesepakatan sementara antara AS dan Iran (Islamabad Memorandum, pertengahan Juni 2026).

Selat vital yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia ini kini kembali melayani lalu lintas komersial secara signifikan, dengan peningkatan transit kapal tanker hingga mendekati level pra-konflik.

Akibatnya, harga minyak mentah dunia turun tajam. Brent Crude turun ke kisaran US$72-75 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$69–72 per barel level terendah dalam beberapa bulan.

Penurunan ini disebabkan oleh ekspektasi pasokan Iran yang meningkat dan berkurangnya risiko gangguan pasokan global.

Bagi Indonesia sebagai negara net importer minyak, penurunan harga minyak mentah ini sangat menguntungkan:

  • Mengurangi tekanan subsidi energi dan impor BBM.
  • Membantu menekan inflasi impor.
  • Memperkuat daya beli masyarakat dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok.
  • Memberi ruang lebih luas bagi BI untuk fokus pada stabilitas Rupiah tanpa kekhawatiran inflasi yang berlebih.

Optimisme pasar

Penguatan Rupiah ini tidak hanya mencerminkan kebijakan domestik yang prudent, tetapi juga merespons sentimen global yang membaik pasca-deeskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Analis memproyeksikan Rupiah berpotensi menguat lebih lanjut menuju kisaran Rp16.500–Rp17.000 sepanjang 2026 jika tren ini berlanjut.

“Pembukaan Selat Hormuz dan penurunan harga minyak menjadi angin segar bagi emerging markets seperti Indonesia. Rupiah semakin diuntungkan oleh kombinasi fundamental kuat dan eksternal yang positif,” ujar ekonom pasar yang memantau Asia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *