Pemerintah: B50 Hemat Devisa Rp170 Triliun

Lifting dari Nabati Capai 300 Ribu BPH, 94% SPBU Sudah Salurkan

Mandatori B50 Hemat Devisa Negara hingga Rp170 Triliun
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Donny Oekoen saat RDP dengan Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM RI serta Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (8/9/2026). Foto : Tari/Andri

intuisi.net- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa penerapan mandatori biodiesel B50 memberikan dampak signifikan bagi perekonomian dan ketahanan energi Indonesia.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyatakan, penghentian impor solar berkat program ini mampu menghemat devisa negara hingga sekitar Rp170 triliun.

“Dengan adanya mandatori B50, impor solar yang selama ini mencapai 18 juta kiloliter sudah dihentikan sehingga meningkatkan devisa negara,” kata Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Selain penghematan devisa, program ini juga mendorong peningkatan lifting minyak. Saat ini lifting minyak nasional berada di angka 610 ribu barel per hari (bph).

Dari jumlah tersebut, kontribusi bahan bakar nabati sudah mencapai sekitar 300 ribu bph atau hampir separuhnya.

“Kalau lifting minyak kita 610 ribu barel per day, maka lifting dari nabati sudah mencapai setengahnya, yaitu 300 ribu barel per day,” jelas Eniya.

Manfaat mandatori B50 tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi dan energi. Dari sisi lingkungan, penggunaan biosolar diperkirakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton pada 2026.

Program ini juga menciptakan lapangan kerja baru yang diproyeksikan mencapai 2,1 juta orang di tahun yang sama.

“Manfaat penggunaan biosolar juga dirasakan pada lingkungan dan tenaga kerja. Emisi gas rumah kaca berkurang 44,46 juta ton, sementara tenaga kerja meningkat hingga 2,1 juta orang pada 2026,” ujarnya.

Implementasi di Lapangan Hampir Merata

Sementara itu, realisasi penyaluran B50 di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) terus menunjukkan kemajuan.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra mengungkapkan, hingga 5 September 2026 sebanyak 6.050 SPBU atau 94 persen dari total 6.412 SPBU telah menyalurkan B50.

“Masih ada 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena masih menghabiskan stok B40,” kata Ega.

Dari delapan wilayah Marketing Operation Region (MOR), mayoritas sudah mencapai penyaluran di atas 90 persen.

Hanya wilayah Maluku dan Papua yang masih berada di angka 65 persen karena stok B40 di daerah tersebut masih cukup banyak.

Program mandatori B50 tidak hanya memperkuat kemandirian energi melalui pemanfaatan bahan baku dalam negeri, tetapi juga memberikan dampak berantai positif bagi devisa, lingkungan, dan penyerapan tenaga kerja.

Pemerintah berkomitmen terus mengawal implementasi agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *