Batam, intuisi.net- Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menghadiri Groundbreaking pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kabil, Kamis (5/11/2026).
Pembangunan SWRO tahap pertama ini merupakan komitmen investasi dari Citramas Group dengan nilai proyek sebesar USD 32,8 juta atau sekitar Rp 600 miliar.
Teknologi SWRO ini sangat membantu Kota Batam memenuhi kebutuhan air bersih yang terus meningkat seiring berkembangnya kawasan industri dan investasi data center.
Dengan mengolah air laut menjadi air tawar berkualitas tinggi, fasilitas ini memberikan kepastian pasokan bagi proyek-proyek strategis di Kabil Industrial Estate (KIE) dan Nongsa Digital Park (NDP).
Apa Itu Teknologi SWRO?
Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) adalah teknologi desalinasi yang mengubah air laut menjadi air bersih melalui proses reverse osmosis.
Prinsip kerjanya sederhana namun canggih: air laut dipaksa melewati membran semi-permeabel dengan tekanan tinggi (biasanya 55–85 bar).
Membran ini hanya melewatkan molekul air, sementara garam, mineral, dan kontaminan lainnya tertahan dan dibuang sebagai brine (air pekat).
Prosesnya melibatkan beberapa tahap: pengambilan air laut (intake), pre-treatment untuk menyaring partikel dan mencegah kerusakan membran, pemompaan bertekanan tinggi, proses reverse osmosis itu sendiri, serta post-treatment agar air siap digunakan.
Keunggulannya antara lain efisiensi tinggi (penolakan garam hingga lebih dari 99%), tidak membutuhkan pemanasan seperti metode termal, dan dapat diskalakan sesuai kebutuhan industri.
Teknologi ini sudah banyak digunakan di kawasan pesisir dan pulau-pulau yang menghadapi keterbatasan sumber air tawar.
Dua Tahap Pembangunan, Target Operasi 2027
Menurut Amsakar, pembangunan SWRO Kabil berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama berkapasitas 300 liter per detik (lps) dengan target operasi November 2027.
Tahap kedua akan menambah 400 lps sehingga total kapasitas mencapai 700 lps.
“Kami mengapresiasi langkah Citramas yang telah mengambil bagian dalam memperhatikan pasokan air di Batam.
Ini merupakan komitmen investasi yang patut kita dukung bersama karena kebutuhan air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri, termasuk pengembangan Data Centre di Batam,” ujar Amsakar.
Ia menekankan bahwa investasi tidak hanya soal membangun fasilitas usaha, tetapi juga memastikan infrastruktur pendukungnya tersedia.
Ketersediaan air yang memadai memberi kepastian bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan investasinya.
Bukan Hanya SWRO, Ada Juga Embung dan Daur Ulang
Selama ini kebutuhan air di kawasan Kabil dan Nongsa sudah ditopang embung mandiri milik Citramas yang berkapasitas sekitar 5.200 meter kubik per hari (setara 60,2 lps).
Citramas Group juga mempercepat pembangunan embung baru di Nongsa Digital Park serta menerapkan daur ulang air limbah industri.
Targetnya, kapasitas air bersih dari embung dan daur ulang naik menjadi 10.000 meter kubik per hari (sekitar 115,74 lps) pada awal 2027.
CEO Citramas Group, Michael Wiluan, menjelaskan bahwa keberhasilan pengembangan data center sangat bergantung pada infrastruktur dasar yang andal, khususnya pasokan air.
“Kami hari ini akan memulai tahapan pembangunan fasilitas SWRO 300 lps tahap pertama dengan target operasi hingga November 2027 dari total rencana kapasitas 700 lps.
Pembangunan ini sekaligus menjadi bagian komitmen kami untuk membangun kawasan industri yang tidak hanya kompetitif tapi ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur pendukung investasi,” tegasnya.
Michael menambahkan bahwa Citramas telah menggarap suplai air bersih secara mandiri sejak 1992. Selain air, mereka juga memastikan pasokan listrik dan konektivitas internet bersama mitra strategis.
Sinergi untuk Iklim Investasi yang Lebih Baik
BP Batam memandang pengembangan infrastruktur air melalui investasi swasta sebagai langkah penting menciptakan iklim usaha yang kondusif.
Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha diharapkan membuat Batam semakin siap memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar, memberikan kepastian bagi investor, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.
Pembangunan SWRO Kabil ini menjadi bukti nyata bahwa Batam tidak hanya mengandalkan investasi fasilitas utama, tetapi juga serius menyiapkan “tulang punggung” infrastruktur pendukungnya.
Dengan teknologi yang mampu mengubah air laut menjadi sumber daya berharga, kota ini semakin siap menyambut era industri digital dan data center.












