intuisi.net – Dalam hitungan jam yang dramatis, Iran kehilangan sosok yang selama 37 tahun menjadi simbol perlawanan absolut terhadap Barat.
Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran berusia 86 tahun, tewas pada Sabtu 28 Februari 2026 pagi saat serangan udara besar-besaran gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam kompleks kediaman sekaligus kantornya di pusat Teheran.
Kematiannya pertama kali diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump melalui media sosial, yang menyebut peristiwa itu sebagai “keadilan bagi rakyat Iran dan dunia”.
Beberapa jam kemudian, televisi pemerintah Iran mengonfirmasi secara resmi: Khamenei “gugur sebagai syuhada” di tempat kerjanya.
Negara menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan libur umum tujuh hari, sambil menyatakan akan melancarkan balasan.
Gugurnya Khamenei bukan sekadar kematian seorang pemimpin, melainkan penutup babak panjang sebuah rezim yang lahir dari revolusi 1979.
Khamenei, yang menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989, awalnya merasa “tidak layak” menduduki jabatan tertinggi.
Namun, ia akhirnya memegang kendali absolut sebagai Panglima Tertinggi, pengawas program nuklir, dan arsitek “Poros Perlawanan” yang membentang dari Lebanon hingga Yaman.
Sepanjang kekuasaannya, ia selamat dari upaya pembunuhan tahun 1981 yang melumpuhkan tangan kanannya, melewati perang Iran-Irak, sanksi bertubi-tubi, hingga gelombang protes besar seperti Gerakan Hijau 2009 dan “Woman, Life, Freedom” 2022.
Kini, di usia 86 tahun, ia tewas bukan karena sakit atau usia tua, melainkan dalam serangan yang menghancurkan simbol kekuasaannya sendiri – kompleks yang selama puluhan tahun menjadi pusat pengambilan keputusan paling rahasia di Iran.
Media asing melaporkan adanya kerusakan parah dan asap hitam mengepul dari lokasi. Beberapa sumber menyebut anggota keluarga dekatnya juga menjadi korban.
Sementara itu, Iran yang sudah terpuruk akibat perang pendek dengan Israel tahun lalu dan krisis ekonomi, kini menghadapi kekosongan kepemimpinan yang belum pernah terjadi sejak revolusi.
Siapa penggantinya? Majelis Pakar (Assembly of Experts) yang beranggotakan 88 ulama senior akan memutuskan.
Nama-nama yang beredar di kalangan analis luar negeri antara lain Hassan Khomeini (cucu pendiri revolusi), Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, dan beberapa figur garis keras lainnya. Namun, tidak ada yang bisa menjamin kelangsungan sistem yang sama.
Bagi jutaan warga Iran yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang “Death to America, Death to Israel”, momen ini bisa menjadi titik balik – entah menuju chaos lebih besar, atau justru peluang baru yang selama ini hanya menjadi mimpi.
Sementara bagi kawasan Timur Tengah dan dunia, hilangnya sosok yang selama puluhan tahun menjadi “musuh nomor satu” bagi Israel dan AS, membuka babak yang sama sekali baru, penuh ketidakpastian.
Ini bukan akhir dari Iran. Ini akhir dari sebuah era yang dimulai dengan Khomeini dan ditutup dengan Khamenei – dua nama yang akan terus bergema dalam sejarah, meski cara mereka pergi sangat berbeda.
Baca Juga:












