intuisi.net – Wabah Hantavirus strain Andes telah menggemparkan dunia internasional setelah menyerang kapal pesiar ekspedisi MV Hondius.
Hingga kini, virus mematikan ini telah menewaskan tiga orang dan menyebabkan delapan kasus keseluruhan, memicu respons kesehatan global yang melibatkan berbagai negara di Eropa, Afrika, Amerika Latin, dan Asia.
Kapal MV Hondius yang membawa sekitar 147 penumpang dan kru dari 23 negara ini menjadi pusat perhatian dunia sejak kasus pertama muncul pada 6 April 2026.
Tiga korban jiwa termasuk pasangan asal Belanda dan seorang penumpang Jerman.
Satu pasien masih dirawat intensif di Afrika Selatan dengan kondisi membaik, sementara beberapa penumpang lainnya telah dievakuasi ke Belanda untuk perawatan lanjutan.
Strain Andes hantavirus yang tergolong jarang ini dikenal dapat menular antar-manusia melalui kontak dekat yang lama, satu-satunya jenis hantavirus dengan karakteristik tersebut.
Penularan utamanya melalui urin, air liur, atau kotoran hewan pengerat yang terinfeksi. Gejala dimulai dari demam tinggi dan mual, kemudian dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat.
Masa inkubasi hingga enam minggu membuat otoritas kesehatan tetap waspada terhadap kemungkinan kasus baru.
WHO menegaskan bahwa risiko penularan ke masyarakat umum tetap rendah dan kejadian ini bukanlah awal dari pandemi baru seperti COVID-19.
Inggris menjadi negara pertama yang melaporkan klaster ini ke WHO sesuai International Health Regulations (IHR).
Kapal kini diizinkan berlabuh di Kepulauan Canary, Spanyol, setelah sempat ditolak di Cabo Verde, dengan seluruh penumpang dan kru menjalani isolasi di kabin selama proses disinfeksi.
Kasus Masuk ke Singapura
Kabar terbaru semakin menegangkan: dua warga Singapura yang merupakan penumpang MV Hondius kini telah diisolasi dan menjalani pemeriksaan di National Centre for Infectious Diseases.
Otoritas Singapura telah mengaktifkan protokol pencegahan ketat, meski risiko penularan lokal dinilai sangat rendah. Pelacakan kontak juga dilakukan di beberapa negara terhadap penumpang yang telah turun lebih awal.
WHO bersama otoritas kesehatan terkait terus melakukan koordinasi intensif. Meski situasi serius, penyebaran diyakini dapat dikendalikan melalui isolasi, pemantauan, dan disinfeksi menyeluruh.
Masyarakat diimbau agar tetap tenang namun waspada, siapa pun yang baru saja melakukan perjalanan terkait kapal ini diminta segera memeriksakan diri jika muncul gejala demam, batuk, atau sesak napas.
Kasus ini menjadi pengingat penting akan kerentanan kesehatan global di tengah mobilitas internasional yang tinggi. Solidaritas dan kerja sama antarnegara kembali teruji dalam menghadapi ancaman virus langka ini.
Baca Juga:












