Tanjungpinang, intuisi.net- Di tengah angin laut yang lembut menyentuh Pulau Penyengat, sejarah bahasa Indonesia menemukan “rumah” barunya.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, didampingi Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura, meresmikan dimulainya pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional, Kamis sore.
Peresmian ditandai dengan penekanan sirene oleh Mendagri Tito Karnavian, disaksikan Gubernur Ansar Ahmad, Wagub Nyanyang Haris Pratamura, serta unsur Forkopimda.
Momen singkat itu membawa makna panjang: sebuah langkah konkret untuk menancapkan kembali akar bahasa Melayu sebagai fondasi bahasa persatuan Indonesia.
Dalam sambutannya, Tito menekankan pentingnya museum dan monumen ini bagi generasi muda.
“Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa memiliki arti penting untuk mengenalkan kepada generasi muda sejarah dan asal-usul bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa persatuan bangsa,” ujarnya.
Ia mengingatkan perjalanan panjang bahasa Melayu. Sejak abad-abad lampau, bahasa Melayu menjadi lingua franca perdagangan di Nusantara.
Mudah dipelajari dan sudah tersebar luas, bahasa ini kemudian disepakati dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai bahasa Indonesia.
“Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Padahal waktu itu Indonesia belum merdeka,” tegas Tito.
Pertanyaan kritis kemudian muncul: dari mana bahasa Melayu berasal? Banyak teori beredar, namun Tito menunjuk satu jejak yang paling jelas dan berbukti.
“Yang paling jelas dan ada buktinya adalah Raja Ali Haji, dengan Gurindam Dua Belas, yang pusatnya berada di Pulau Penyengat ini,” katanya.
Atas dasar itu, Mendagri mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang menginisiasi Monumen dan Museum Tugu Bahasa.
Ia menilai bangunan ini nanti tidak sekadar penanda sejarah, melainkan sumber pembelajaran sekaligus penghargaan kepada Raja Ali Haji.
Lebih jauh, Tito berharap museum ini menjadi ruang dialog lintas negara pengguna bahasa Melayu-Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Ia juga optimistis kawasan Pulau Penyengat akan berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya unggulan.
“Dalam perjalanan ke sini tadi, Gubernur Ansar sudah membicarakan bahwa museum ini akan berisi sejarah dan ceritanya. Saya yakin ini akan menjadi objek wisata yang menarik dan akan terus dikembangkan,” ujarnya.
Sebelum menutup, Tito menyampaikan pesan penting: pembangunan ini harus dijaga dan dilanjutkan oleh siapa pun yang kelak memimpin Kepulauan Riau.
“Siapa pun yang menjabat nantinya, saya harap bisa meneruskan, sehingga betul-betul menjadi bukti nyata bahwa bahasa pemersatu bangsa Indonesia berawal dari Pulau Penyengat,” tutupnya.
Dengan dimulainya pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional, Pulau Penyengat tidak hanya menyimpan masa lalu.
Ia kini sedang menulis babak baru: menjadi ruang hidup di mana bahasa, sejarah, dan identitas bangsa bertemu dalam satu atap.












