Jakarta, intuisi.net- Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan penggeledahan Polri di sebuah rumah mewah di Sentul dan kafe di Cipete, Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah akhirnya buka suara langsung di hadapan publik.
Dengan sikap tenang namun tegas, ia hadir di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, membubarkan kabut spekulasi yang selama ini beredar liar di media sosial.
“Saya akui, rumah di Sentul itu memang rumah pribadi saya yang sudah dimiliki sejak lama. Kepemilikannya bisa dicek dari awal,” ujar Febrie tegas.
Ia menegaskan bahwa rumah tersebut bukanlah objek baru yang tiba-tiba muncul dalam pemberitaan, melainkan aset pribadi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupannya.
Lebih lanjut, Febrie membantah keras tudingan keterkaitan bisnis dengan kafe De’Clan Signature di Cipete yang juga digeledah Polri.
“Tidak ada kaitan bisnis sama sekali,” katanya. Ia menambahkan bahwa soal uang dan barang yang ditemukan di rumah Sentul, “ada pemiliknya, ada kegiatannya. Orang-orang yang terlibat bisa ditanya.”
Semua akan dijelaskan melalui proses hukum yang transparan.
Fokus pada Pemberantasan Korupsi, Bukan Drama
Di balik isu penggeledahan yang sempat menyita perhatian publik, Febrie Adriansyah justru menggarisbawahi komitmennya yang tak goyah.
Ia sedang mendalami kasus-kasus besar, termasuk dugaan korupsi yang melibatkan MBG dan praktik tambang yang merugikan negara. “Saya minta dukungan masyarakat agar penegakan hukum ini terus berjalan,” tegasnya.
Pernyataan ini datang di tengah penanganan kasus-kasus kakap yang selama ini menjadi sorotan. Febrie dikenal sebagai sosok jaksa yang gigih mengejar korupsi di berbagai sektor strategis.
Kehadirannya kali ini bukan sekadar klarifikasi, melainkan sinyal kuat bahwa Kejaksaan Agung tetap fokus pada tugas utama: memberantas korupsi tanpa pandang bulu.
Transparansi dan Kolaborasi Penegak Hukum
Febrie menekankan pentingnya kerjasama antar penegak hukum. “Kami menghormati proses penyidikan rekan-rekan Polri. Mari kita tunggu hasilnya secara utuh agar semuanya menjadi terang,” katanya.
Ia juga menyinggung soal dugaan korupsi pengadaan batu bara PLN, menyarankan audit menyeluruh terlebih dahulu untuk memastikan ada atau tidaknya unsur pidana.
Bagi intuisi.net, momen ini menjadi pengingat bahwa di balik gemuruh isu, ada seorang penegak hukum yang memilih jalur fakta dan tanggung jawab daripada sensasi.
Klarifikasi Febrie Adriansyah bukan akhir dari cerita, melainkan babak baru di mana transparansi, akuntabilitas, dan dukungan publik menjadi kunci keberhasilan pemberantasan korupsi di negeri ini.












