intuisi.net – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menggelar pertemuan bilateral di Beijing pada Kamis pagi, 14 Mei 2026.
Pertemuan yang berlangsung selama dua jam 15 menit ini membahas berbagai isu krusial internasional di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok, kedua pemimpin bertukar pandangan secara mendalam mengenai situasi di Timur Tengah, krisis Ukraina, serta isu Semenanjung Korea.
Pertemuan ini berlangsung saat Amerika Serikat masih terlibat dalam konflik bersenjata dengan Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026, sehingga situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, masih belum stabil.
Selain isu keamanan regional, agenda ekonomi dan perdagangan mendominasi pembicaraan.
Presiden Xi Jinping menegaskan kembali posisi Tiongkok bahwa perang dagang tidak memiliki pemenang.
“Hubungan ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dan AS bersifat saling menguntungkan,” kata Xi, seperti dikutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning.
Xi menambahkan bahwa tim ekonomi dan perdagangan kedua negara telah menghasilkan outcome yang “umumnya seimbang dan positif”, yang dinilainya sebagai kabar baik tidak hanya bagi rakyat kedua negara, melainkan juga bagi dunia.
Isu Taiwan jadi sorotan utama
Salah satu isu paling sensitif yang dibahas adalah Taiwan. Presiden Xi Jinping menekankan bahwa isu Taiwan merupakan “prioritas tertinggi” bagi Tiongkok.
Ia mendesak Amerika Serikat untuk menangani masalah ini dengan sangat hati-hati, memperingatkan bahwa kegagalan mengelola isu tersebut dapat mendorong kedua kekuatan besar menuju konflik langsung.
Xi juga menyerukan pentingnya menjaga stabilitas hubungan bilateral serta menerapkan “persaingan yang moderat” di antara kedua negara.
Pertemuan ini mencakup hampir seluruh isu paling kontroversial dalam hubungan AS-Tiongkok saat ini, demikian dilaporkan kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua.
Reaksi dan Konteks
Kunjungan Trump ke Beijing ini menjadi sorotan internasional, terutama setelah Duta Besar Iran memberikan tanggapan terkait pertemuan tersebut.
Pertemuan di tengah perang AS-Iran menunjukkan upaya diplomasi tingkat tinggi kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia untuk meredam eskalasi lebih lanjut di berbagai front.
Hingga berita ini ditulis, Gedung Putih dan pemerintah Tiongkok belum merilis pernyataan lengkap hasil pertemuan. Namun, kedua pihak sepakat bahwa dialog langsung di tingkat pimpinan tertinggi tetap penting di tengah ketidakpastian global.












