Pejabat Juga Mati Air! Deputi BP Batam Blak-blakan

Ariastuty: Saya Mengalami Apa yang Kalian Alami

Sumber: @KataBatam (Istimewa)

Batam, intuisi.net-  Interaksi transparan di media sosial bongkar fakta: gangguan suplai air bersih Batam tak pandang bulu, warga dan pejabat sama-sama harus menampung air.

Gangguan suplai air bersih yang kerap menjadi keluhan warga Kota Batam kembali mencuri perhatian publik.

Namun, bukan karena pengumuman resmi atau unjuk rasa, melainkan sebuah interaksi jujur dan transparan di media sosial Thread yang terjadi pada Kamis (24/9/2026).

Semua bermula ketika akun @yanlizhongg melontarkan pertanyaan yang mewakili keresahan banyak warga:

“Tiba-tiba ke pikir, apa pejabat batam ini airnya ngalir lancar jaya bersih terus ya? Jadi gaada yang lihat masalah air ini (?)”

Pertanyaan kritis itu langsung dijawab oleh akun @ariastutysirait dengan bahasa yang sangat apa adanya:

“Saya mati air dari pagi sampai malam, baru jam 9 malam nyala 😊 saya mandi pagi air tidak mengalir kok, tapi saya sudah tampung malam harinya. Proses pekerjaan pipa membutuhkan waktu. Saya mengalami apa yg kalian alami.”

Jawaban tersebut langsung viral. Banyak netizen terkejut.

Mereka tidak menyangka bahwa pemilik akun yang mengaku juga mati air dari pagi hingga malam, lalu menampung air di malam hari agar bisa mandi pagi, adalah Ariastuty Sirait, Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Air Tidak Pilih Kasih

Pernyataan Deputi Ariastuty Sirait menjadi bukti nyata bahwa gangguan suplai air di Batam tidak membeda-bedakan status.

Baik masyarakat biasa maupun pejabat tinggi mengalami kondisi yang sama: aliran air terhenti, harus menampung air malam hari, dan menunggu proses perbaikan jaringan pipa yang memang membutuhkan waktu.

“Saya mengalami apa yang kalian alami.” Kalimat penutup itu menjadi semacam cermin keadilan infrastruktur.

Masalah air bersih di Batam bukan hanya urusan warga di tingkat bawah, melainkan persoalan bersama yang dirasakan hingga level pejabat.

Komunikasi yang Meredakan Stigma

Interaksi ini dinilai positif karena membuka ruang komunikasi yang setara dan transparan.

Alih-alih bersikap defensif atau menghindar, pejabat terkait justru mengakui secara terbuka bahwa dirinya juga merasakan dampak gangguan pasokan air.

Hal ini sedikit banyak meredakan prasangka publik yang selama ini menganggap pejabat “kebal” terhadap persoalan infrastruktur sehari-hari.

Di tengah tantangan pasokan air yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Batam akibat perbaikan dan peningkatan jaringan pipa, pernyataan Deputi Bidang Pelayanan Umum ini menjadi pengingat penting: air adalah kebutuhan bersama.

Ketika aliran terhenti, semua orang tanpa kecuali harus beradaptasi dengan cara yang sama: menampung, menunggu, dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.

Tugas negara tetap jalan. Pejabat juga merasakan mati air. Dan yang paling penting, komunikasi yang jujur tetap bisa dibangun di tengah krisis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *