Amsakar Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal

Anak Batam Harus Dapat Tempat

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menandatangani kesepakatan antar Pemko Batam dan APINDO Batam dan disaksikan Wamendagri, Bima Arya, di Kantor Wali Kota Batam, Jumat (11/9/2026). HUMAS DISKOMINFO BATAM

Batam, intuisi.net- Di tengah arus investasi yang terus mengalir dan gelombang pencari kerja dari berbagai daerah, Wali Kota Batam Amsakar Achmad memilih berdiri di sisi yang sering terlupakan: tenaga kerja lokal.

Hari ini, saat Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan pentingnya membangun ekosistem ekonomi dari hulu ke hilir agar pertumbuhan benar-benar “menetes” ke lapangan kerja, Amsakar merespons dengan langkah yang sudah ia jalankan sejak awal kepemimpinannya.

Ia tak hanya berbicara soal angka, tapi soal siapa yang boleh ikut menikmati peluang di kota sendiri.

“Kami ingin pertumbuhan ekonomi dan perkembangan investasi berjalan paralel dengan kesempatan kerja yang ada,” kata Amsakar.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di balik itu tersimpan sejumlah kebijakan konkret yang secara konsisten ia dorong.

Pertama, prioritas bagi tenaga kerja lokal. Amsakar sudah bertemu lebih dari seratus HRD perusahaan di Batam.

Ia meminta mereka memberi ruang lebih besar bagi putra-putri daerah, terutama untuk posisi operator dan pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian tinggi.

Ia bahkan mendorong adanya regulasi yang mewajibkan porsi minimal 15–20 persen tenaga kerja lokal.

“Kalau untuk skill tinggi, silakan kompetisi terbuka. Tapi untuk level dasar, anak Batam harus mendapat tempat,” tegasnya berulang kali.

Kedua, investasi pada manusia. Tahun ini Pemkot memberikan beasiswa kepada anak-anak dari wilayah hinterland yang diterima di perguruan tinggi ternama, termasuk ITS dan Politeknik Negeri Batam.

Pelatihan berbasis kompetensi juga digelar masif. Ribuan pencari kerja dilatih sesuai kebutuhan industri mulai dari K3, las, forklift, hingga operator produksi.

Disnaker Batam bahkan membuka ratusan hingga ribuan kuota pelatihan gratis khusus bagi pemegang KTP Batam.

Ketiga, penataan agar program tepat sasaran. Mulai Maret 2026, penerbitan Kartu Pencari Kerja (AK1) dibatasi hanya untuk warga ber-KTP Batam.

Tujuannya sederhana: agar pelatihan, bimbingan, dan informasi lowongan benar-benar dinikmati tenaga kerja lokal, bukan sekadar menjadi tempat antrean bagi pendatang.

Amsakar paham betul tantangan yang dihadapi. Batam adalah magnet migrasi. Ribuan orang datang setiap tahun mencari kerja.

Ia tidak menolak kenyataan itu. Yang ia lakukan adalah memastikan warga setempat punya daya saing dan akses yang lebih adil.

“Orang punya hak bekerja di sini dari seluruh penjuru Nusantara. Tugas kami adalah menata agar semuanya berjalan tertib, dan anak daerah tidak tertinggal,” ujarnya.

Gaya kepemimpinan Amsakar dalam isu ketenagakerjaan ini yang membuat optimis di mata banyak pihak.

Ia tidak hanya mengeluarkan pernyataan, tapi turun langsung berdialog dengan serikat pekerja, HRD, dan masyarakat.

Ia mendorong kolaborasi, bukan konfrontasi. Ia mengakui bahwa etos kerja lokal masih perlu diperbaiki, sekaligus meminta industri memberi kesempatan.

Di tengah angka pengangguran yang masih menjadi perhatian dan keluhan sebagian warga yang merasa kalah bersaing dengan tenaga kerja dari luar, langkah-langkah ini menjadi jawaban yang paling konkret sejauh ini.

Bukan solusi instan, tapi fondasi yang terus dibangun.

Bagi Amsakar, pertumbuhan ekonomi tanpa kesempatan kerja lokal hanyalah angka di atas kertas. Dan hari ini, di hadapan Wamendagri, ia kembali menegaskan komitmen itu.

Batam boleh terus maju. Asal warganya ikut melaju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *