intuisi.net- Di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, bendera Merah Putih akhirnya berkibar di tiang tertinggi Asian Games 2026.
Bukan sekadar medali emas pertama kontingen Indonesia di edisi Aichi-Nagoya, melainkan penutup penantian 28 tahun di nomor beregu putra bulutangkis.
Indonesia mengalahkan China 3-2 dalam final yang penuh drama, mengakhiri dominasi juara bertahan yang sudah menguasai gelar dua edisi terakhir.
Yang membuat kemenangan ini terasa berbeda adalah caranya diraih. Indonesia sempat tertinggal 0-2.
Jonatan Christie dikalahkan Shi Yuqi (13-21, 18-21), lalu Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri tumbang di tangan Liang Weikeng/Wang Chang (20-22, 21-19, 14-21).
Di titik itu, banyak yang mulai menghitung peluang perak. Namun yang terjadi justru kebangkitan beruntun yang menandai karakter generasional.
Alwi Farhan membuka celah dengan menundukkan Li Shifeng 23-21, 15-21, 21-16.
Momentum langsung dilanjutkan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin yang membungkam He Jiting/Liu Yi 23-21, 21-10. Skor menjadi 2-2. Semua bergantung pada partai penentuan.
Masuklah Mohammad Zaki Ubaidillah, yang akrab disapa Ubed. Atlet muda berusia 19 tahun itu menghadapi Weng Hongyang, juara Asian Games Hangzhou sebelumnya.
Gim pertama berjalan ketat. Ubed sempat tertinggal, menyelamatkan beberapa game point, lalu menutup 23-21.
Di gim kedua ia langsung menguasai tempo, memimpin jauh, dan menyelesaikan pertandingan 21-13.
Total waktu di lapangan sekitar 45 menit. Emas resmi milik Indonesia.
โSaya benar-benar bahagia dan bangga, bersyukur bisa menang tanpa cedera. Kami sempat tertinggal 0-2, tapi saya berusaha tidak membiarkan pikiran negatif masuk,โ kata Ubed setelah pertandingan.
Ia mengaku tidak merasa terbebani meski nasib tim bergantung padanya. โSaya terus menenangkan diri di lapangan, dan pelatih juga memberikan kepercayaan.โ
Kemenangan ini lebih dari sekadar angka di klasemen. Indonesia kini berdiri di 1 emas, 4 perak, dan 15 perunggu (total 20 medali).
Lebih penting, gelar beregu putra yang terakhir diraih di Bangkok 1998 kini kembali ke tangan Merah Putih.
China gagal meraih hat-trick, sementara Indonesia membuktikan bahwa regenerasi yang selama ini digarap PBSI sudah mulai berbuah di panggung kontinental tertinggi.
Ada beberapa lapisan yang membuat momen ini istimewa. Pertama, komposisi skuad yang memadukan pengalaman (Jonatan Christie, Fajar/Fikri, Leo/Daniel) dengan energi generasi baru (Alwi Farhan dan terutama Ubed).
Kedua, kemampuan bangkit dari posisi paling sulit melawan lawan yang secara historis sulit ditundukkan di level beregu.
Ketiga, simbolisnya: emas pertama kontingen datang dari cabang yang selalu menjadi andalan Indonesia di Asian Games.
Lagu Indonesia Raya akhirnya berkumandang di Aichi. Para pemain berdiri tegak di podium, bendera merah-putih dikibarkan, sementara di tanah air gelombang kebanggaan langsung merespons.
Ini bukan hanya tentang satu medali. Ini tentang penantian panjang yang dibayar lunas dengan cara paling dramatis: comeback dari 0-2 menjadi juara.
Kemenangan ini menjadi pengingat sederhana namun kuat. Prestasi besar sering lahir bukan dari awal yang sempurna, melainkan dari kemampuan tetap berdiri ketika skor sudah tidak berpihak.
Tim bulutangkis putra Indonesia menunjukkannya dengan jelas di Ichinomiya. Dan emas pertama itu, setelah 28 tahun, kini resmi tercatat dalam sejarah Asian Games.












