intuisi.net- Rencana “exclusion zone” baru dan serangan berbalas terhadap kapal AS serta tanker membuat pasar semakin waspada terhadap risiko gangguan pasokan minyak.
Kalau supply terganggu lebih parah, harga oil bisa makin terdorong.
Efeknya tidak berhenti di minyak saja – tekanan inflasi bisa naik, The Fed bisa lebih hati-hati menurunkan suku bunga, sementara USD dan gold berpotensi ikut bereaksi.
Apa yang sedang terjadi?
Konflik AS–Iran yang sudah berlangsung sekitar enam bulan kembali memanas di awal September 2026.
AS menghancurkan beberapa tanker minyak Iran (lima kapal dilaporkan pada 8 September, menyusul serangan sebelumnya) sebagai balasan atas upaya serangan rudal Iran terhadap kapal perang AS.
Iran membalas dengan mengklaim menyerang lebih dari selusin kapal di sekitar Selat Hormuz, termasuk dua kapal AS, delapan tanker minyak, dan kapal-kapal lain yang dianggap “tidak patuh”, serta menargetkan pangkalan AS di Yordania.
Iran juga mengumumkan rencana “exclusion zone” atau zona terlarang baru di luar Selat Hormuz (meluas ke sebagian Teluk Persia dan area sekitar blokade angkatan laut AS).
Kapal yang masuk zona itu tanpa koordinasi dengan Iran akan dimasukkan ke daftar sanksi Iran. Langkah ini menambah ketidakpastian bagi pelayaran di jalur yang krusial tersebut.
Selat Hormuz adalah jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sejak perang berlangsung, lalu lintas kapal di sana sudah jauh berkurang (data analitik menunjukkan rata-rata jauh di bawah level normal), sehingga risiko gangguan supply tetap tinggi.
Harga minyak tembus psikologis US$100
Reaksi pasar cepat. Brent crude (acuan minyak global) menembus level US$100 per barel pada 9 September 2026, level yang belum disentuh sejak Juli.
Beberapa laporan mencatat Brent sempat menyentuh di atas US$100–US$101, sementara WTI juga naik tajam menuju level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Harga minyak sudah naik lebih dari 60% sejak awal tahun di tengah eskalasi berulang.
Analis memperingatkan risiko lebih lanjut. Goldman Sachs misalnya menyebut skenario upside di mana serangan terhadap kapal semakin intensif bisa mendorong Brent ke arah US$120.
Gangguan yang berkepanjangan di Hormuz membuat premium risiko geopolitik tetap tertanam kuat di harga.
Dampak yang lebih luas
- Inflasi & The Fed: Minyak yang mahal mendorong biaya energi dan transportasi. Ini bisa menahan laju penurunan inflasi, sehingga The Fed kemungkinan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
- USD & Gold: Tekanan inflasi dan ketidakpastian geopolitik sering mendukung safe-haven seperti gold, sementara dolar bisa bergerak tergantung sentimen risk-off dan ekspektasi kebijakan moneter.
- Supply global: Volume minyak yang melewati Hormuz sudah jauh di bawah level pra-perang. Jika gangguan berlanjut atau meluas, pasar global semakin rentan terhadap kekurangan pasokan.












