intuisi.net- Sepuluh hari sudah sejak bumi Flores berguncang hebat. Pada dini hari Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Kedalaman dangkal 15 km, episentrum di laut, mekanisme thrust fault di Flores Back-Arc Thrust. Guncangan itu tak hanya merobohkan rumah, tapi juga meninggalkan luka yang terus bertambah.
BNPB mencatat, per hari ini (Selasa, 25 Agustus 2026), jumlah korban meninggal dunia bertambah tiga jiwa menjadi 103 orang. Sebelumnya, hingga Senin (24/8), angkanya 100 jiwa. Rincian sebaran korban:
- Kabupaten Manggarai: 41 jiwa
- Manggarai Timur: 34 jiwa
- Nagekeo: 13 jiwa
- Sikka: 6 jiwa
- Ngada: 5 jiwa
- Ende: 3 jiwa
- Manggarai Barat: 1 jiwa
Dari sisi demografi, 55 persen korban adalah perempuan dan 45 persen laki-laki. Kelompok usia paling terdampak: 45 persen lansia, 37 persen dewasa, 12 persen anak dan remaja, sisanya balita dan batita.
Banyak di antara mereka yang semula luka berat, dirawat di fasilitas kesehatan, namun akhirnya tak tertolong.
Korban luka-luka juga naik signifikan. Dari 1.603 orang pada Senin, kini menjadi 1.666 orang. Kabupaten Manggarai Timur mencatat angka tertinggi: 239 luka berat dan 404 luka ringan.
Angka yang Tak Hanya Statistik
Di balik angka-angka itu ada cerita yang lebih menyakitkan. Lebih dari 185.131 warga masih mengungsi baik di posko terpusat maupun mandiri.
Hanya dalam satu hari, ada penambahan 4.804 pengungsi baru. Penyebabnya jelas: gempa susulan yang terus menerus.
BMKG mencatat hingga pagi ini sudah terjadi 7.029 gempa susulan. Magnitudo terbesar 6,2, terkecil 1,1. Dari jumlah itu, 141 guncangan masih dirasakan warga dalam 24 jam terakhir.
Pola ini diperkirakan masih berlangsung 3-4 minggu ke depan. Banyak warga yang rumahnya relatif utuh pun enggan pulang. Trauma terlalu dalam.
“Gempa yang selalu hadir menimbulkan kepanikan dan trauma mendalam,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers daring hari ini.
Kerusakan material juga masif. BNPB melaporkan 77.912 rumah mengalami kerusakan: 24.597 rusak berat, 18.537 rusak sedang, dan 34.776 rusak ringan.
Fasilitas umum, sekolah, tempat ibadah, kantor, jalan, jembatan ikut porak-poranda.
Respons yang Terus Bergerak
Pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, Basarnas, relawan, serta masyarakat sipil terus bergerak. Distribusi logistik, layanan kesehatan darurat, dan pendataan korban masih intensif dilakukan.
Listrik dan sinyal di Flores dilaporkan sudah pulih 100 persen. Namun tantangan tetap ada: menjangkau pengungsi mandiri di perbukitan, menangani penyakit seperti ISPA di tenda-tenda, serta memastikan bantuan sampai tepat sasaran.
Berton SP Panjaitan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh keluarga korban.
“Kami terus memutakhirkan data seiring laporan tambahan dari wilayah terdampak,” ujarnya.
Harapan di Tengah Puing
Gempa M7,7 Flores 2026 menjadi salah satu bencana paling mematikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik reruntuhan, semangat gotong royong tetap menyala.
Relawan lokal, mahasiswa KKN yang beralih jadi relawan, dan warga yang saling membantu menjadi cahaya di tengah gelap.
Bagi masyarakat di wilayah terdampak: tetap waspada, prioritaskan keselamatan, dan ikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB. Hindari bangunan yang retak.
Untuk yang ingin membantu: pastikan bantuan melalui jalur resmi agar tepat sasaran.
Flores masih berguncang. Tapi harapan untuk bangkit kembali tidak boleh berhenti berguncang pula.












