El Niño 2026 Sudah di Luar Kendali

Ancaman Kekeringan, Karhutla, dan Pangan di Indonesia Menguat

Super-Duper El Niño, @DrJamesEHansen

intuisi.net- Ilmuwan iklim legendaris James Edward Hansen (@DrJamesEHansen) memperingatkan bahwa El Niño saat ini “sedang di luar kendali” (off the charts).

Dalam tulisan bertanggal 21 Agustus 2026 di Substack dan Mailchimp, Hansen dan rekan menyebutnya Super-Duper El Niño sudah melampaui kekuatan super El Niño 1997-98 berdasarkan anomali panas di lapisan atas 300 meter Samudra Pasifik ekuator, meski puncaknya masih beberapa bulan lagi.

Peta anomali suhu permukaan laut (SST) 19 Agustus 2026 dari Climate Reanalyzer (NOAA OISST) yang dibagikan Hansen menunjukkan pita hangat merah mencolok di sepanjang ekuator Pasifik, terutama di wilayah timur dan tengah.

Status Global Saat Ini (Agustus 2026)

  • NOAA Climate Prediction Center (CPC) menyatakan El Niño Advisory aktif. El Niño sedang menguat, dengan peluang >90% menjadi very strong pada musim gugur-dingin 2026/27 (Oktober–Desember puncaknya). Ada sekitar 69% peluang menjadi historic (RONI ≥ +2,5°C, lebih kuat dari semua El Niño sejak 1950).
  • Indeks Niño 3.4 mingguan (konvensional) sekitar +2,6°C (minggu berpusat 19 Agustus), dengan nilai dasarian/bulanan BMKG mencapai +2,77 hingga +2,99°C di awal-pertengahan Agustus — kategori sangat kuat.
  • Model-model (IRI, JMA, CPC) hampir sepakat El Niño berlanjut hingga setidaknya awal 2027, dengan banyak prediksi puncak yang menyaingi atau melampaui 1997-98 dan 2015-16.
  • Hansen menekankan bahwa kekuatan abnormal ini terjadi di atas pemanasan global yang sudah dipercepat oleh aktivitas manusia, sehingga dampaknya lebih parah (gelombang panas laut & darat, ekstrem cuaca).

Dampak Khusus di Indonesia (Update BMKG 24-25 Agustus 2026)

BMKG mencatat El Niño intensitas sangat kuat. Indeks Niño 3.4 dasarian II Agustus 2026 mencapai +2,99°C (dari +2,20°C di Juli).

Indian Ocean Dipole (IOD) cenderung positif (+0,39), yang memperkuat kondisi kering.

Kondisi terkini:

  • Sekitar 80% wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau (dasarian II Agustus), dengan curah hujan rendah mendominasi.
  • Prakiraan dasarian III Agustus: ±86,6% wilayah diperkirakan curah hujan kategori rendah (0–50 mm).
  • Wilayah paling terdampak (selatan khatulistiwa): Jawa, Bali, NTB, NTT, Sumatra bagian selatan, Kalimantan selatan, Sulawesi, Papua selatan.
  • Risiko utama: kekeringan berkepanjangan, gangguan produksi pangan, penurunan ketersediaan air, dan lonjakan kebakaran hutan & lahan (karhutla). Provinsi prioritas pengawasan: Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.
  • Puncak kemarau Agustus–September 2026, dampak utama El Niño terasa hingga sekitar Oktober. Setelah itu, meski El Niño masih aktif hingga 2027, pengaruhnya terhadap hujan Indonesia berkurang saat musim hujan datang.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan intensitas El Niño saat ini sudah lebih tinggi daripada 2015, dan koordinasi intensif dengan BMKG terus dilakukan.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Pemerintah (BMKG, Kementerian terkait) sudah mendorong:

  • Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengisi waduk dan membasahi lahan rawan.
  • Kesiapsiagaan lintas sektor untuk pangan, air, kesehatan (ISPA akibat asap), dan pengendalian inflasi.
  • Pemantauan titik panas dan kualitas udara secara ketat.

Untuk masyarakat:

  • Hemat air dan pantau informasi resmi BMKG.
  • Waspada karhutla — jangan bakar lahan.
  • Petani: sesuaikan pola tanam dan manfaatkan informasi prakiraan.
  • Ikuti update BMKG (bmkg.go.id) dan hindari informasi tidak resmi.

El Niño ini bukan sekadar siklus alami biasa. Kombinasi kekuatan ekstrem + pemanasan global membuat 2026–2027 berpotensi menjadi salah satu periode paling menantang bagi Indonesia dalam beberapa dekade. Kesiapsiagaan dini adalah kunci untuk mengurangi dampak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *