Jakarta, intuisi.net- Rupiah sempat menyentuh level kritis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka perspektif segar tentang ketahanan ekonomi rakyat kecil.
Bukan sekadar klarifikasi, melainkan potret nyata bagaimana desa-desa Indonesia menjadi benteng terkuat menghadapi badai mata uang global.
Purbaya menjelaskan pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, bukanlah simplifikasi murahan. “Konteksnya di pedesaan, di koperasi desa. Bukan bicara soal internasional,” ujarnya tegas.
Pernyataan itu dimaksudkan untuk menghibur sekaligus mengingatkan masyarakat akar rumput: kehidupan sehari-hari mereka berjalan dengan rupiah, bukan dolar.
Mengapa Desa “Tak Pakai Dolar”?
- Transaksi harian murni rupiah: Jual beli pangan, kebutuhan pokok, dan jasa antarwarga dilakukan tanpa sentuhan mata uang asing.
- Ketahanan pangan dan energi lokal: Desa semakin mandiri berkat program koperasi dan swasembada, sehingga fluktuasi kurs tidak langsung menggoyang meja makan warga.
- Fokus produksi dalam negeri: Koperasi Desa Merah Putih yang baru diresmikan menjadi bukti konkret bagaimana ekonomi bawah tumbuh tanpa bergantung impor berlebih.
Pernyataan ini justru menegaskan prioritas pemerintah pada ekonomi kerakyatan.
Purbaya, yang dikenal senyumnya menjadi “barometer” ketenangan pasar, memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh. Pangan aman, energi aman, dan desa-desa semakin berdaya.
Purbaya juga menegaskan Presiden Prabowo sangat paham dinamika rupiah. Pernyataan di Nganjuk adalah komunikasi langsung ke hati rakyat desa, bukan analisis teknis Wall Street.
Sementara elite kota mungkin pusing dengan kurs, jutaan kepala keluarga di pedesaan tetap fokus pada sawah, pasar tradisional, dan koperasi mereka.
Pesan untuk Semua
Di era ketidakpastian global, ketahanan desa adalah modal utama bangsa. Purbaya mengajak semua pihak tidak panik berlebihan, tapi bekerja keras memperkuat fondasi ekonomi dari bawah.
Selama senyum Purbaya masih lebar dan koperasi desa terus tumbuh, Indonesia punya alasan kuat untuk tetap tenang.












