Sadisnya Cinta Sesama Jenis di Batam

Dua Tragedi Berdarah dalam Dua Bulan

Gambar Ilustrasi.

Batam, intuisi.net – Kota Batam kembali diguncang oleh dua kasus pembunuhan sadis yang berpangkal pada hubungan asmara sesama jenis.

Rasa cemburu menjadi pemicu utama kekerasan ekstrem yang merenggut nyawa dan meninggalkan luka mendalam, baik secara fisik maupun sosial.

Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, dua peristiwa maut terjadi di kawasan Legenda Malaka dan Perumahan Family Dream, mengundang keprihatinan luas akan bahaya konflik emosional yang tak terkendali serta pentingnya pengendalian diri dan toleransi di tengah masyarakat multikultural.

Tragedi Pertama: Batu Lesung Mematikan di Legenda Malaka

Peristiwa pertama terjadi pada 18 Januari 2026 di sebuah kamar kos di kawasan Legenda Malaka, Kecamatan Batam Kota.

Seorang remaja berinisial S alias Dogel (17 tahun) dengan kejam menghabisi nyawa pasangannya, R (27 tahun), hanya dengan menghantamkan batu lesung (cobek) berulang kali ke kepala korban hingga tewas di tempat.

Motifnya murni cemburu buta. Korban sempat memeriksa ponsel pelaku dan menemukan percakapan mesra dengan pria lain.

Keduanya telah menjalin hubungan sesama jenis selama sekitar 11 bulan dan tinggal bersama seperti pasangan suami-istri.

Kapolsek Batam Kota AKP Benny Syahrizal menjelaskan,

“Pertengkaran bermula dari kecurigaan korban yang memicu amarah pelaku. Pelaku tak bisa mengendalikan emosi, langsung mengambil batu lesung dan menghantam kepala korban hingga tewas.”

Korban ditemukan bersimbah darah oleh warga sekitar, sementara pelaku langsung diamankan polisi.

S dijerat dengan Pasal Penganiayaan Berat yang Mengakibatkan Kematian, dengan ancaman hukuman penjara hingga 10 tahun.

Kasus ini sangat menggegerkan warga Legenda Malaka yang selama ini dikenal sebagai kawasan hunian yang relatif tenang.

Tragedi Kedua: Pisau Tertancap di Kepala di Tengah Bulan Puasa

Tak sampai dua bulan kemudian, tepatnya pada 10 Maret 2026 (masih di awal bulan Ramadan 1447 H), tragedi serupa kembali terjadi di Perumahan Family Dream, Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa.

Ironisnya, peristiwa ini berlangsung di bulan puasa—saat umat Islam diajarkan untuk menahan amarah, nafsu, dan emosi demi mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pelaku MY alias M. Yusuf (31 tahun) merencanakan pembunuhan terhadap mantan kekasihnya AS (22 tahun) setelah mengetahui korban telah move on dan menjalin hubungan baru dengan AB (24 tahun).

Hubungan mereka yang berlangsung 7–12 bulan berakhir tragis dengan tusukan pisau dapur berulang kali hingga pisau tertancap di kepala AS, menyebabkan kematian instan.

AB selamat meski mengalami luka parah di kepala dan tangan akibat serangan kayu bertatahkan paku yang dilakukan pelaku terlebih dahulu.

Kapolresta Barelang Kombes Pol. Anggoro Wicaksono menjelaskan kronologi mengerikan dalam konferensi pers:  Pelaku menguntit korban sejak pagi hari puasa.

  • Memanfaatkan fitur share location dari masa lalu untuk melacak keberadaan korban.
  • Menyelinap masuk ke rumah AB yang pintunya tidak terkunci dan bersembunyi.
  • Menyerang AB terlebih dahulu, lalu menusuk AS dari belakang hingga tewas.

Setelah kejadian, pelaku justru memesan ojek online dan menyerahkan diri ke Mapolresta Barelang.

Barang bukti yang diamankan meliputi pisau dapur, kayu patah bertatahkan paku, pakaian berlumur darah, handphone, dan sepeda motor pelaku.

MY dijerat Pasal 459 KUHP baru (pembunuhan berencana), dengan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun.

Pola yang Sama: Cemburu, Ketidakstabilan Emosional, dan Kekerasan FatalKedua kasus ini menunjukkan pola serupa: hubungan sesama jenis yang diwarnai ketidakstabilan emosional, berujung kekerasan ekstrem akibat cemburu.

Imbauan Polisi:

Kendalikan Emosi, Laporkan AncamanPolresta Barelang mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan domestik, tanpa memandang orientasi seksual.

Kapolresta Anggoro menegaskan: “Jangan biarkan emosi menguasai. Selesaikan masalah dengan dialog atau bantuan profesional. Segera laporkan segala ancaman melalui Call Center Polri 110 yang siap melayani 24 jam secara gratis.”

Kasus-kasus ini menjadi pengingat pahit: cinta yang tak terkendali bisa berubah menjadi tragedi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *