Jakarta, intuisi.net- Pemerintah mempercepat pembangunan jaringan gas (jargas) rumah tangga secara masif guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menegaskan langkah ini menjadi prioritas strategis dalam memastikan pasokan energi yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan bagi rumah tangga Indonesia.
Dalam konferensi pers Program Hasil Terbaik Cepat di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (5/8/2026), Qodari mengungkapkan target pembangunan jargas periode 2025–2026 mencapai 119.379 sambungan rumah (SR) yang tersebar di 15 kabupaten/kota.
Angka ini meningkat dari target sebelumnya 115.264 SR setelah penambahan 1.765 SR di Kota Jambi, 2.000 SR di Kota Bontang, dan 350 SR di Kabupaten Gresik.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 3 Agustus 2026, seluruh proyek tersebut telah memasuki tahap penyelesaian konstruksi.
Perluasan ke Cirebon dan Target Besar 2026–2028
Pemerintah juga mulai mengerjakan tahap pertama pembangunan jargas di Kabupaten Cirebon dengan target 41.043 sambungan rumah.
Proyek yang mencakup Kecamatan Gempol, Palimanan, Dukupuntang, dan Depok ini dikontrak sejak 20 Mei hingga 31 Desember 2026.
Saat ini masih berada pada tahap awal, meliputi survei jalur, penentuan lokasi stasiun pengatur dan pengukur tekanan gas, serta pendataan calon pelanggan.
Secara kumulatif hingga 2025, jaringan gas nasional telah mencapai 949.008 sambungan rumah, terdiri dari 703.308 SR yang didanai APBN dan 245.700 SR melalui pendanaan non-APBN.
Untuk mempercepat perluasan layanan, pemerintah menyiapkan pembangunan 959.232 sambungan rumah pada periode 2026–2028 di delapan wilayah prioritas:
- Kabupaten Bogor: 182.665 SR
- Kota Depok: 156.134 SR
- Kabupaten Bekasi: 120.691 SR
- Kabupaten Cirebon: 117.142 SR
- Kabupaten Tangerang: 100.247 SR
- Kabupaten Lamongan: 101.295 SR
- Kabupaten Pasuruan: 93.772 SR
- Kabupaten Jombang: 87.286 SR
Dokumen Front End Engineering Design (FEED) dan Detail Engineering Design Construction (DEDC) untuk proyek-proyek tersebut telah selesai disusun dan kini memasuki tahap persiapan pelaksanaan.
Dengan demikian, total target pembangunan jaringan gas pada periode 2025–2028 mencapai 1.119.654 sambungan rumah.
Skema Pendanaan Multi-Sumber dan Target hingga 2029
Pemerintah menyiapkan tiga skema pendanaan utama: APBN, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dan investasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rincian target per tahun:
- 2025: 100.000 SR melalui investasi BUMN
- 2026: 150.000 SR (APBN), 50.000 SR (KPBU), dan 100.000 SR (BUMN)
- 2027, 2028, dan 2029: masing-masing 350.000 SR per tahun (150.000 APBN + 100.000 KPBU + 100.000 BUMN)
Secara keseluruhan, pembangunan jargas periode 2025–2029 diproyeksikan mencapai 1,45 juta sambungan rumah, dengan komposisi 600.000 SR melalui APBN, 350.000 SR melalui KPBU, dan 500.000 SR melalui investasi BUMN.
Kebutuhan anggaran dihitung menggunakan pendekatan sekitar Rp10 juta per sambungan rumah. Nilai tersebut bersifat fleksibel dan akan disesuaikan berdasarkan hasil perencanaan teknis, kondisi lapangan, lokasi, serta hasil proses pengadaan.
Pasokan Gas Domestik Aman
Qodari memastikan ketersediaan gas domestik mencukupi untuk mendukung percepatan ini. Sekitar 70–75 persen produksi gas nasional dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Pemerintah terus memastikan kesiapan pasokan berdasarkan ketersediaan sumber atau alokasi gas, volume dan profil kebutuhan pelanggan, kesinambungan pasokan selama umur operasi, serta kesiapan jaringan transmisi dan distribusi,” tegasnya.
Langkah percepatan ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor, tetapi juga memberikan akses energi yang lebih bersih, efisien, dan terjangkau bagi jutaan rumah tangga Indonesia, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan energi nasional di masa depan.












