Jakarta, intuisi.net- Tak butuh waktu lama bagi Hotman Paris Hutapea untuk menjadi pusat badai.
Baru beberapa hari menjadi kuasa hukum mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, pengacara flamboyan itu sudah mengumumkan mundur dengan alasan kesehatan.
Namun, di balik keputusan tersebut, terkuak serangkaian kontroversi yang menyentuh langsung Presiden Prabowo Subianto hingga profesi jurnalis.
Dalam penampilan terakhirnya yang terlihat lelah di RS Medistra, Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026), Hotman mengaku dokter di Singapura sudah “marah-marah” karena ia tak kunjung berhenti bekerja.
Saraf kejepit yang dideritanya kambuh lagi, memaksanya terbang ke Singapura besok subuh untuk pengobatan lanjutan.
“Dokter sana bilang, ‘Why you work?'” ujarnya, sambil menegaskan bahwa tim Massagus Farizi akan melanjutkan pembelaan Febrie.
Kontroversi Prabowo: “Kebanggaan Presiden” yang Dikriminalisasi?
Yang membuat rilis ini berbeda dari liputan mainstream adalah sudut pandang dinamika kekuasaan di balik kasus ini.
Saat masih aktif mendampingi Febrie pada 17 Juli lalu, Hotman dengan tegas menyebut kliennya sebagai “tangan kanan yang dibanggakan Presiden Prabowo”.
Ia mengklaim Febrie telah mengembalikan ratusan triliun rupiah ke negara melalui penanganan Asabri dan Satgas PKH.
“Bayangkan, orang kebanggaan Presiden tiba-tiba dikriminalisasi tanpa pamit sama Presiden,” cetus Hotman dalam jumpa pers yang viral itu. Pernyataan ini langsung memicu reaksi Istana.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan penanganan kasus murni ranah penegak hukum dan tak perlu dikaitkan dengan Presiden.
Gerindra pun ikut merespons, menyayangkan pernyataan Hotman yang dianggap bertentangan dengan komitmen Prabowo memberantas korupsi.
Hotman kemudian meminta maaf secara terbuka. Tapi benarkah ini sekadar “slip of the tongue” seorang lawyer loyal, atau ada pesan lebih dalam tentang koordinasi antar-institusi di era Prabowo?
Kasus Febrie yang melibatkan dugaan korupsi Asabri, batu bara PLN hingga Krakatau Steel, serta penyitaan 74 kg emas dan ratusan miliar rupiah jadi sorotan bagaimana “tangan kanan” bisa jatuh secepat itu.
Ledakan Emosi ke Wartawan: “Lu Punya Otak Enggak?”
Tak kalah panas, kontroversi penghinaan terhadap wartawan. Dalam konferensi pers yang sama, Hotman sempat emosi saat menjawab pertanyaan jurnalis.
“Menurut kau gimana? Lu punya otak enggak?” katanya, sambil mempertanyakan latar belakang pendidikan hukum reporter tersebut.
PWI Pusat tak tinggal diam. Mereka melaporkan Hotman ke Polda Metro Jaya dengan Pasal 242 KUHP tentang penghinaan terhadap golongan. Laporan sudah diregister, bukti video diserahkan, dan proses hukum berjalan.
Hotman sempat meminta maaf, tapi PWI menegaskan permintaan maaf tak menghapus dugaan pidana.
Ini bukan sekadar “hot temperament” khas Hotman. Di era di mana kebebasan pers jadi pilar demokrasi, sikap seorang figur publik seperti dia terhadap media menjadi cerminan etika yang lebih besar.
Apakah ini pelecehan profesi, atau reaksi wajar seorang pembela klien yang merasa pertanyaan sudah berulang dan provokatif?
Hotman Paris bukan pengacara biasa. Ia lawyer bintang yang pernah mendampingi Prabowo puluhan tahun.
Mundurnya dari kasus Febrie yang semula dianggap titik balik pembelaan, justru membuka tabir dinamika: kesehatan, loyalitas, politik hukum, dan batas etika profesi.
Sementara Febrie menghadapi tuduhan berat (belum ditahan), Hotman memilih prioritas kesehatan dan meninggalkan sorotan.
Intuisi.net melihat ini sebagai pelajaran berharga: di balik gemerlap hukum high-profile, ada manusia dengan batas fisik, ambisi, dan konsekuensi.
Apakah mundurnya Hotman akan meredam kontroversi atau justru membuka babak baru investigasi yang lebih dalam terhadap kasus Febrie?












