Batam, intuisi.net- Ratusan warga Kelurahan Sambau, khususnya kawasan Kavling Bakau Serip, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menggelar aksi demonstrasi di pintu masuk Nongsa Digital Park (NDP), Senin (5/10/2026).
Mereka membawa galon, ember, dan peralatan dapur sebagai simbol kesulitan air bersih yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Aliran air ke rumah warga disebut mati total. “Kami sudah tiga bulan lebih, air kami tidak mengalir setetes pun. Kami cuma mau air mengalir lagi seperti sebelumnya,” kata Dewi Susanti, salah satu warga, di lokasi aksi.
Ketua RT 02 RW 03 Bakau Serip, Andi Lala, menambahkan sekitar 70–75 rumah di wilayahnya terdampak parah.
Warga terpaksa mengandalkan mobil tangki yang jumlahnya terbatas, kadang keruh dan berbau, serta harus menunggu dari pagi hingga dini hari. Ironisnya, tagihan air tetap datang, mulai Rp180 ribu hingga Rp200 ribu per bulan.
Respons Cepat Aparat Setempat dan BP Batam
Aksi yang sempat menutup akses masuk kawasan data center itu langsung mendapat perhatian. Camat Nongsa Amuri SE, MH, bersama unsur Forkompimcam Nongsa dan jajaran Polsek Nongsa hadir di lokasi. Mereka mendampingi warga dan memfasilitasi dialog.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, juga turun langsung menemui warga. Ia menyampaikan langkah konkret: pekerjaan interkoneksi pipa diameter 250 mm sepanjang 30 meter di Jalan Hang Lekiu Sambau ditargetkan selesai Senin malam.
Setelah tekanan jaringan terbentuk, air diharapkan mulai mengalir secara bertahap dan stabil mulai Selasa (6/10) malam dari suplai IPAM Duriangkang.
“Malam ini tersambung, besok malam bisa jalan dan stabil. Belum bisa melimpah, tapi besok mengalir,” tegas Denny.
Sebagai langkah sementara, BP Batam menyiapkan enam mobil tangki yang didistribusikan berdasarkan pendataan bersama RT, RW, kelurahan, dan kecamatan, dengan pengawalan personel Polsek Nongsa.
Kehadiran Camat, Forkompinda, Polsek Nongsa, dan pejabat BP Batam di tengah warga dinilai positif. Dialog berlangsung kondusif, tanpa ketegangan. Aparat setempat menunjukkan kecepatan merespons keluhan masyarakat.
Masalah yang Berulang, Solusi Harus Berkelanjutan
Meski respons cepat patut diapresiasi, persoalan air bersih di Nongsa bukan kali ini saja muncul. Gangguan sudah berlangsung berbulan-bulan, dipicu penyusutan Waduk Nongsa akibat kemarau panjang El Nino.
Produksi air di kawasan itu anjlok dari sekitar 90 liter per detik menjadi hanya sekitar 25 liter per detik.
Warga juga mempertanyakan ketimpangan distribusi di tengah berkembangnya kawasan industri dan data center.
BP Batam membantah data center mengambil air dari sumber yang sama dan menjelaskan mereka memiliki sistem tersendiri, termasuk teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang sedang dibangun.
Namun, fakta bahwa warga masih harus membayar tagihan tanpa mendapatkan layanan, serta kualitas air tangki yang sering dikeluhkan, menunjukkan sistem distribusi dan komunikasi kepada masyarakat masih perlu diperbaiki.
Solusi interkoneksi pipa ini diharapkan tidak hanya bersifat sementara.
Camat Nongsa Amuri dan Forkompinda diharapkan terus mengawal pemulihan aliran air hingga benar-benar stabil ke rumah warga.
Sementara BP Batam diminta memastikan monitoring jaringan hingga ke ujung, termasuk perbaikan infrastruktur jika diperlukan.
Aksi warga Sambau hari ini menjadi pengingat bahwa air bersih adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda.
Kecepatan respons aparat setempat dan BP Batam memberikan harapan, tetapi yang lebih penting adalah kepastian bahwa air benar-benar mengalir lagi tanpa harus menunggu demo berikutnya.












