Batam, intuisi.net- Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian mengajak pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian lebih intensif terhadap kehidupan warga lanjut usia (lansia).
Ajakan ini disampaikan setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa sebagian besar lansia yang meninggal di pengungsian pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur disebabkan penyakit kronis.
“Ini mengingatkan kita bahwa lansia perlu perhatian khusus,” kata Hetifah dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta.
Ia menekankan bahwa lansia adalah orang tua, guru, dan generasi yang ikut membangun keluarga serta masyarakat. Ketika kemampuan fisik mereka berkurang, negara dan masyarakat harus semakin hadir.
Hetifah menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi lansia sehari-hari, mulai dari penurunan kesehatan, keterbatasan mobilitas, berkurangnya penghasilan, kesulitan mengakses layanan publik, hingga kesepian dan hilangnya dukungan sosial.
Menurutnya, kebijakan bantuan tunai, subsidi, dan kemudahan transportasi yang sudah ada masih belum cukup.
Kebutuhan lansia jauh lebih luas, mencakup pemeriksaan kesehatan dan obat secara berkelanjutan, ruang publik yang mudah diakses, layanan perawatan jangka panjang, pendampingan bagi yang hidup sendiri, kesempatan tetap aktif dan produktif, serta perlindungan khusus saat bencana atau menjalankan ibadah haji dan umrah.
Ia mendorong agar isu lansia menjadi agenda pembangunan jangka panjang dan mendukung revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia agar lebih relevan dengan perubahan demografi.
“Indonesia yang ramah lansia adalah Indonesia yang memastikan seseorang tetap dihargai, dilindungi, sehat, dan memiliki ruang untuk berdaya sampai usia lanjut,” ujarnya.
Program Prioritas Amsakar–Li Claudia di Batam: Wujud Nyata Perhatian kepada Lansia
Ajakan Hetifah menemukan resonansi kuat di Kota Batam. Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra menjadikan bantuan sosial lansia sebagai salah satu dari 15 program prioritas pemerintahan mereka sejak awal masa jabatan.
Program ini dimulai pada 2025 dengan penyaluran insentif Rp300.000 per bulan kepada 2.000 lansia se-Kota Batam.
Bantuan ditransfer langsung ke rekening penerima dan dilandasi Peraturan Wali Kota Nomor 41 Tahun 2025.
Pada 2026, jumlah penerima ditingkatkan menjadi 4.000 orang dengan nominal naik menjadi Rp400.000 per bulan.
Amsakar dan Li Claudia secara rutin turun langsung menyerahkan bantuan secara simbolis di berbagai kecamatan, termasuk wilayah pulau-pulau perbatasan.
Amsakar Achmad menjelaskan pentingnya program ini.
“Program ini telah kami janjikan saat kampanye, dan kini telah kami realisasikan. Banyak lansia merasa segan jika harus bergantung kepada anak atau menantu.
Akibatnya, mereka bisa merasa tertekan. Bantuan ini diharapkan memberikan kemandirian dan rasa dihargai,” ujarnya.
Li Claudia Chandra menambahkan bahwa program ini merupakan bentuk nyata kepedulian pemerintah kota.
“Lebih dari sekadar nilai uang, insentif ini mencerminkan keberpihakan kami terhadap lansia di Batam. Kami ingin para lansia merasa tenang dan tidak lagi khawatir terhadap kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen untuk terus menambah jumlah penerima secara bertahap seiring kesiapan data dan anggaran, mengingat jumlah lansia di Batam diperkirakan mencapai sekitar 60.000 orang.
Program ini didukung efisiensi anggaran daerah dan menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk pengentasan kemiskinan serta perlindungan sosial.
Selain bantuan tunai, Pemkot Batam terus memperkuat layanan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat agar lansia tetap memiliki ruang untuk berdaya.
Menuju Indonesia yang Ramah Lansia
Apa yang dilakukan Amsakar dan Li Claudia di Batam menunjukkan bahwa perhatian khusus kepada lansia bisa diwujudkan secara konkret di tingkat daerah.
Bantuan rutin yang langsung masuk rekening, kehadiran pemimpin di lapangan, serta komitmen peningkatan nominal dan cakupan menjadi langkah nyata menjawab tantangan yang disoroti Hetifah.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat semakin dibutuhkan.
Dengan menjadikan lansia sebagai prioritas pembangunan, Indonesia tidak hanya menghargai jasa generasi terdahulu, tetapi juga membangun fondasi masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan hingga usia lanjut.












