Batam, intuisi.net- Generasi muda Batam didorong untuk tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, melainkan berani menciptakan inovasi dan mengambil peran sebagai pelaku utama ekonomi digital.
Pesan kuat itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, saat mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra dalam kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) bertema “Ekosistem ITSK, Pengenalan Kripto, RWA, dan Stablecoin” di Politeknik Negeri Batam, Senin (31/8/2026).
Kegiatan yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan teknologi di sektor keuangan.
Di tengah transformasi besar ekosistem keuangan, teknologi tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan telah mengubah cara masyarakat bertransaksi, berinvestasi, mengelola aset, hingga menciptakan nilai ekonomi baru.
Firmansyah menekankan bahwa perkembangan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), aset kripto, tokenisasi Real-World Assets (RWA), dan stablecoin harus dipahami secara utuh.
Pemahaman itu mencakup peluang dan manfaat, sekaligus risiko investasi, keamanan platform, fundamental aset, serta aspek legalitas.
“Jangan sampai karena FOMO, kita mengambil keputusan finansial tanpa memahami fundamental aset, risiko investasi, keamanan platform, maupun legalitasnya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026. Indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61 persen, sementara literasi keuangan masih di angka 69,57 persen.
Pada kelompok usia 18-25 tahun, inklusi mencapai 95,69 persen dengan literasi 73,32 persen.
Sementara di kalangan pelajar dan mahasiswa, inklusi 92,76 persen, namun literasi baru 62,72 persen.
“Artinya, anak muda kita sudah semakin dekat dengan produk dan layanan keuangan, tetapi belum semuanya punya pemahaman yang memadai tentang bagaimana menggunakannya secara bijak,” ujar Firmansyah.
Kondisi ini menjadi perhatian bersama. Kemudahan akses harus diiringi kemampuan mengambil keputusan yang cerdas dan bertanggung jawab.
Literasi, menurutnya, bukan sekadar mengenal istilah atau produk, melainkan kemampuan berpikir kritis di tengah laju teknologi yang sangat cepat.
Batam memiliki posisi strategis sebagai pusat industri, perdagangan, jasa, dan investasi.
Potensi ini menjadi modal besar untuk memperkuat daya saing daerah sekaligus membuka ruang lebih luas bagi generasi muda dalam menciptakan peluang dan nilai ekonomi baru.
“Saya berharap mahasiswa Batam tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi pencipta inovasi dan pelaku ekonomi digital,” kata Firmansyah.
Untuk mewujudkan visi tersebut, dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, OJK, perguruan tinggi, industri, dan generasi muda.
Kolaborasi ini diharapkan mampu membangun ekosistem keuangan digital yang inovatif, aman, inklusif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Firmansyah mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terbawa arus tren semata. “Jangan hanya bertanya, apa yang sedang tren. Tetapi bertanyalah, apa yang fundamental, apa risikonya, dan bagaimana teknologi ini bisa menciptakan nilai.”
Di akhir sambutannya, Sekda menyampaikan apresiasi kepada OJK atas terselenggaranya kegiatan ini.
Ia berharap forum Digital Financial Literacy tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi mampu melahirkan generasi muda Batam yang cakap secara digital, matang secara finansial, dan siap mengambil bagian dalam ekonomi masa depan.
“Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang cepat mengikuti perkembangan teknologi. Batam harus mampu melahirkan generasi muda yang menciptakan inovasi, membuka peluang, dan mengambil peran dalam menentukan arah ekonomi digital,” tutup Firmansyah.
Dengan semangat kolaborasi dan literasi yang kuat, Batam terus memperkuat posisinya sebagai kota yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga proaktif membentuk masa depan ekonomi digital Indonesia.












