Batam, intuisi.net- Biaya seragam sekolah menengah atas (SMA) Negeri di Kota Batam sepenuhnya dibebankan kepada orangtua.
Harganya dikemas dalam tiga paket: Paket A Rp1.300.000, Paket B Rp1.500.000, dan Paket C Rp1.700.000.
Yang mencolok: tidak ada rincian harga per item, hanya angka bulat. Banyak orangtua yang merasa dirugikan. Salah satunya RN, orangtua murid di salah satu SMA di Batam.
Ia mengeluhkan tiga hal sekaligus: biaya yang tidak transparan, larangan memakai seragam bekas milik kakak kandung, dan harga yang jauh lebih mahal dibanding tempat lain.
“Kalau transparan, kenapa tidak dijabarkan isinya? Kami diminta bayar ratusan ribu hingga jutaan, tapi tidak tahu persis apa yang kami beli. Ditambah lagi, seragam bekas abangnya dilarang. Padahal masih bagus,” kata RN kepada tim media.
Penelusuran awal di lapangan menemukan pola yang menarik. CV Alfinda disebut berkali-kali sebagai pemenang proyek pengadaan seragam di puluhan sekolah.
Sumber yang dekat dengan proses pengadaan menyebut perusahaan ini “sering muncul” dan memenangkan banyak proyek terkait seragam sekolah di Batam.
Ketika dihubungi, Celin dari CV Alfinda membantah keras. “Bapak dapat info dari mana?” tanyanya. Saat diminta menjelaskan berapa jumlah pastinya sekolah yang mereka tangani, Celin enggan menjawab.
Fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Informasi dari SMAN 15 dan SMAN 26 bahwa pembayaran biaya seragam sekolah melalui transfer bank dengan rekening atas nama CV Alfinda Production.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Andi Agung, hingga saat ini enggan memberikan tanggapan.
Mekanisme yang Dipertanyakan
Proses pengadaan seragam sekolah di Batam berjalan dengan pola yang hampir seragam: sekolah menetapkan paket harga, orangtua wajib membayar, dan vendor tertentu, salah satunya CV Alfinda menjadi pihak yang menerima dana.
Tidak ada mekanisme terbuka yang memungkinkan orangtua membandingkan harga di pasaran, memilih vendor lain, atau menggunakan seragam bekas yang masih layak.
Pertanyaan yang muncul kemudian: Apakah proses ini benar-benar melalui lelang terbuka?
Siapa yang menentukan harga paket? Mengapa satu perusahaan bisa muncul di begitu banyak sekolah?
Rilis ini merupakan temuan awal. Tim akan terus menelusuri dokumen pengadaan, aliran dana, dan keterlibatan pihak-pihak terkait. Lebih banyak data dan kesaksian sedang dikumpulkan.
Transparansi biaya pendidikan dasar dan menengah bukan sekadar wacana, ini menyangkut hak orangtua dan anak-anak mereka.












