Batam, intuisi.net- Bayangkan puluhan pekerja asing tiba-tiba berhamburan, ada yang melompat pagar, ada yang bersembunyi di toilet, sementara sirine atau teriakan petugas terdengar di kejauhan.
Itulah adegan dramatis yang terekam video dan langsung meledak di media sosial beberapa waktu lalu di kawasan Nongsa, Batam.
Peristiwa sidak Imigrasi di proyek pembangunan Pusat Data DayOne di Kabil Industrial Tech Park bukan sekadar insiden biasa.
Ini menjadi cermin dari ketegangan yang semakin terasa di Batam: antara geliat investasi besar-besaran dan kekhawatiran masyarakat lokal terhadap “banjir” tenaga kerja asing.
Imigrasi Beri Kepastian, Tapi Pertanyaan Tetap Menggantung
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Kepulauan Riau turun langsung memeriksa lokasi. Sekitar 80 paspor dicek, delapan orang sempat diamankan untuk klarifikasi. Hasilnya?
Kepala Kantor Wilayah Imigrasi Kepri, Guntur Sahat Hamonangan, menyatakan tegas: tidak ditemukan pelanggaran keimigrasian.
Para pekerja asal Tiongkok tersebut menggunakan visa tenaga ahli dan visa pemasangan mesin yang masih berlaku.
“Yang terjadi adalah kepanikan semata. Faktor bahasa menjadi salah satu pemicu utama. Mereka tidak paham apa yang sebenarnya terjadi saat petugas datang,” jelas Guntur.
Sementara itu, PT China Construction Yangtze River Indonesia selaku kontraktor utama proyek membantah keras tudingan mempekerjakan TKA ilegal.
Menurut perusahaan, porsi tenaga kerja asing hanya sekitar 12-17 persen. Sisanya adalah tenaga Indonesia yang bertugas di berbagai level.
Batam, Magnet Data Center Asia yang Sedang Naik Daun
Proyek DayOne bukan proyek sembarangan. Pengembang data center asal Singapura ini sedang gencar membangun kampus hyperscale di Batam, lokasi yang strategis karena dekat dengan Singapura, biaya operasional lebih rendah, dan didukung kawasan ekonomi khusus.
Baru-baru ini DayOne bahkan menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) terbesar di Indonesia dengan PLN Batam untuk kapasitas hingga 450 MW.
Ini menandakan ambisi besar menjadikan Batam sebagai salah satu hub digital penting di Asia Tenggara, mengimbangi Singapura dan Johor.
Namun di balik gemerlap investasi, muncul keraguan publik. Bukan hanya di proyek DayOne, kasus serupa kerap terulang di berbagai proyek konstruksi Batam.
Data Dinas Tenaga Kerja menunjukkan ribuan TKA China mendominasi sektor konstruksi.
Pertanyaan yang sering muncul: Apakah keahlian mereka benar-benar “ahli” atau ada pekerjaan kasar yang seharusnya bisa diisi tenaga lokal?
Transparansi Jadi Kunci
Meski Imigrasi sudah “clear”, peristiwa ini justru menjadi momentum penting. Banyak kalangan menyerukan pengawasan bersama yang lebih ketat antara Imigrasi, Disnakertrans, BP Batam, dan pihak perusahaan.
“Investasi asing memang kita butuhkan, tapi jangan sampai mengorbankan kesempatan kerja anak bangsa,” ujar salah satu tokoh masyarakat Batam yang enggan disebut namanya.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, DayOne dan para mitranya punya tantangan sekaligus peluang: membuktikan bahwa kehadiran mereka membawa manfaat nyata bagi perekonomian Batam, bukan hanya beton dan serat optik, tapi juga pemberdayaan tenaga kerja lokal.
Saat ini, Batam sedang Menjadi pusat data regional yang megah. Namun, ada kontroversi tenaga kerja asing.
Video pekerja berlarian itu mungkin hanya adegan sesaat, tapi dampak dan pelajarannya jauh lebih panjang.












