Batam, intuisi.net- Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menegaskan komitmen kuat seluruh elemen masyarakat untuk memerangi penyalahgunaan obat-obatan tertentu.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara Gerakan Nasional Pencegahan Penyalahgunaan Obat-obatan Tertentu yang digelar di Batam, Selasa malam.
Acara yang menjadi bagian dari upaya mendukung agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045 ini diikuti sekitar 400 peserta baik secara luring maupun daring.
Peserta berasal dari berbagai kalangan: pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, akademisi, pelaku usaha, organisasi perempuan, pelajar, mahasiswa, hingga media massa.
“Posisi Kepri yang strategis di Selat Malaka membawa peluang ekonomi luar biasa, tetapi sekaligus membawa ancaman serius. Setiap tahun 80 ribu kapal melintas dan puluhan juta kontainer bergerak di kawasan ini. Kita tidak boleh lengah,” ujar Gubernur Ansar Ahmad.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Kepri yang mencapai 6,94 persen pada 2025 menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia harus dibarengi dengan perlindungan generasi muda dari bahaya narkoba dan obat terlarang.
“Jika generasi mudanya rusak, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan bermakna. Produktivitas akan turun, dan masa depan bangsa terancam,” tegasnya.
Gubernur Ansar juga menyampaikan bahwa program prioritas nasional seperti makan bergizi gratis akan sulit optimal jika generasi muda terus terpapar penyalahgunaan obat-obatan.
Keluarga: Garda Terdepan Pencegahan
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN RI, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menekankan peran strategis keluarga sebagai perisai utama.
“Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sangat rentan terhadap pengaruh teman sebaya, dan literasi mereka terhadap bahaya obat-obatan masih rendah. Edukasi dan penguatan keluarga adalah kunci menghadapi bonus demografi kita,” katanya.
Ratu Ayu juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental remaja. Tekanan sosial, perundungan, dan kesepian kerap menjadi pintu masuk penyalahgunaan obat.
Untuk itu, Kementerian telah menggulirkan program Bina Keluarga Remaja (BKR), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), serta Forum Generasi Berencana (Genre).
BPOM Ungkap Peredaran Besar-Besaran
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menyampaikan data yang mengkhawatirkan. Menurutnya, peredaran obat-obatan tertentu sudah mencapai level yang sangat serius.
“Kami baru saja mengungkap kasus di Banten, Batam, Bandung, dan Semarang dengan nilai triliunan rupiah. Ada 1,6 miliar kapsul dan ribuan ton bahan baku yang siap diproduksi menjadi 5–6 miliar kapsul. Ini ancaman nyata bagi generasi muda Indonesia,” ungkap Taruna.
Ia menambahkan bahwa keuntungan ekonomi yang sangat besar membuat jaringan mafia obat terus mencari celah, terutama menyasar anak muda.
Oleh karena itu, BPOM mendorong gerakan nasional terpadu yang melibatkan edukasi, pengawasan, penegakan hukum, dan partisipasi aktif masyarakat.
“Malam ini kita pusatkan di Kepulauan Riau. Dengan sinergi semua pihak, kita pasti bisa cegah ancaman ini,” tegasnya.
Penandatanganan Komitmen Bersama
Acara ditutup dengan dua momen penting:
- Penandatanganan naskah hibah tanah dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau kepada BPOM RI.
- Penandatanganan komitmen bersama pencegahan penyalahgunaan obat-obatan tertentu.
Turut hadir Ketua TP PKK Provinsi Kepri Dewi Kumalasari, Ketua BKOW Provinsi Kepri Nenny Dwiana Nyanyang, Sekda Provinsi Kepri Misni, Kepala Balai POM Batam Ully Mandasari, unsur Forkopimda, bupati/wali kota, serta berbagai elemen masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi lintas sektor, Kepulauan Riau siap menjadi garda terdepan dalam melindungi generasi muda demi mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang sehat, unggul, dan berdaya saing tinggi.












