Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar

Anjlok Sentuh Rekor Terlemah

Ilustrai nilai tukar Rupiah terhadap USD.

intuisi.net – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) terus melemah dan berada di kisaran Rp17.000–Rp17.105 per USD pada perdagangan awal pekan ini.

Pada Selasa (7 April 2026), rupiah ditutup di level Rp17.105 per USD setelah melemah 70 poin dari penutupan sebelumnya.

Hari ini (Rabu, 8 April 2026), rupiah masih tertekan di kisaran yang sama, mencatatkan level terlemah sepanjang tahun 2026.

Situasi Terkini (Ada Apa?)

Rupiah mengalami pelemahan berturut-turut sejak awal April 2026. Pada 1–2 April, kurs masih berada di kisaran Rp16.900–Rp17.000 per USD, namun dalam seminggu terakhir terus tergerus hingga menyentuh rekor Rp17.105.

Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS (DXY) dan sentimen risk-off di pasar global.

Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar spot dan non-delivery forward untuk menahan laju pelemahan, sementara pemerintah tetap mempertahankan subsidi BBM meski harga minyak dunia melonjak.

Analisis Penyebab Utama

Pelemahan rupiah kali ini didominasi dua faktor besar: eksternal (geopolitik dan komoditas) serta domestik (fiskal).

Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Konflik AS-Iran memuncak dengan tenggat waktu yang diberikan Presiden Trump kepada Iran. Ancaman gangguan pasokan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar.

Hal ini menyebabkan investor berbondong-bondong ke aset aman (USD) dan mendorong harga minyak mentah dunia naik tajam. Sentimen risk-off ini langsung menekan mata uang emerging markets termasuk rupiah.

Lonjakan Harga Minyak Dunia

Harga minyak yang melambung meningkatkan beban subsidi energi Indonesia.

Pemerintah masih menahan harga BBM dalam negeri, sehingga defisit APBN berpotensi melebar lebih dari target 3% PDB. Kekhawatiran ini memperburuk sentimen domestik dan menekan rupiah.

Penguatan Dolar AS

Ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian global membuat dolar semakin perkasa. Rupiah sebagai mata uang negara berkembang ikut terdampak.

Faktor Domestik Pendukung

Surplus perdagangan Indonesia menyempit (ekspor turun, impor naik), cadangan devisa menurun, serta kekhawatiran inflasi akibat harga energi yang tinggi. Kombinasi ini membuat pelaku pasar semakin hati-hati.

Prospek dan Respons Kebijakan

Analis memprediksi tekanan rupiah masih berlanjut pekan ini seiring perkembangan konflik Timur Tengah dan rilis data ekonomi AS (inflasi serta Nonfarm Payrolls).

BI diperkirakan tetap menjaga suku bunga acuan dan melanjutkan intervensi untuk menstabilkan pasar. Pemerintah menegaskan komitmen menjaga defisit fiskal dan subsidi BBM tetap terkendali.

Baca Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *