Batam, intuisi.net – Sebagai kawasan strategis yang terus berkembang sebagai pusat investasi dan pariwisata di Indonesia, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), kini menorehkan langkah bersejarah dengan dimulainya pembangunan rumah sakit pariwisata kesehatan pertama di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam. Proyek prestisius ini digagas oleh Mayapada Group bekerja sama dengan jaringan rumah sakit ternama asal India, Apollo Hospitals, melalui pembangunan Mayapada Apollo Batam International Hospital (MABIH) di wilayah Sekupang.
Pembangunan rumah sakit ini ditandai dengan acara peletakan batu pertama pada lahan seluas 2,9 hektare, yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Batam, Rizal Edwin Manansang, dan Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Proyek ini diharapkan selesai dalam waktu 24 bulan, dengan target operasional pada akhir 2027.
Rizal Edwin Manansang menegaskan bahwa pembangunan MABIH merupakan langkah strategis untuk menjadikan Batam sebagai destinasi pariwisata kesehatan terkemuka di kawasan Asia Tenggara. “Setiap tahun, sekitar dua juta masyarakat Indonesia bepergian ke luar negeri untuk berobat, menghabiskan devisa hingga Rp200 triliun. Dengan kehadiran MABIH, kami ingin menahan aliran devisa tersebut di dalam negeri sekaligus menarik pasien dari mancanegara,” ujarnya di Batam, Selasa.
KEK Pariwisata Kesehatan (Parkes) Batam, yang resmi ditetapkan pada 2024 sebagai kawasan wisata kesehatan kedua setelah Sanur, Bali, mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Rizal menambahkan bahwa MABIH akan dilengkapi dengan fasilitas berstandar internasional, termasuk teknologi medis mutakhir dan tenaga kesehatan berkualitas, untuk bersaing dengan rumah sakit di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyatakan dukungan penuh terhadap proyek ini. “Kami sangat menyambut baik groundbreaking MABIH ini. Prosesnya berjalan cepat, dan kami optimistis rumah sakit ini akan memperkuat posisi Batam sebagai hub investasi dan pusat kesehatan regional,” katanya. Ia juga menyoroti dampak positif proyek ini, seperti penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan aktivitas ekonomi, dan penguatan daya tarik Batam sebagai destinasi wisata medis.
President Commissioner Mayapada Hospital, Jonathan Tahir, mengungkapkan bahwa proyek MABIH dirancang lebih dari setahun bersama Apollo Hospitals dengan nilai investasi lebih dari Rp1 triliun. “Batam dipilih karena lokasinya yang strategis, dekat dengan Singapura dan Malaysia, serta memiliki infrastruktur yang mendukung untuk menjadi pusat kesehatan internasional,” ujar Jonathan.
Ia menambahkan bahwa rumah sakit ini akan menawarkan layanan medis unggulan, seperti bedah jantung, onkologi, dan ortopedi, yang diharapkan dapat menarik pasien dari dalam dan luar negeri.
MABIH diharapkan menjadi magnet bagi pasien lokal, nasional, dan internasional, sekaligus mendukung visi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia pada layanan kesehatan di luar negeri. Dengan fasilitas modern dan kerja sama dengan Apollo Hospitals, yang memiliki reputasi global, MABIH diyakini akan menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi Batam menjadi destinasi wisata kesehatan kelas dunia.
“Kami berharap MABIH tidak hanya menjadi pilihan utama bagi pasien Indonesia, tetapi juga menarik wisatawan medis dari negara tetangga. Ini adalah langkah besar menuju Batam yang lebih maju dan kompetitif,” tutup Rizal.
Proyek ini juga diharapkan dapat mendorong pengembangan ekosistem pariwisata kesehatan di Batam, termasuk pengembangan fasilitas pendukung seperti akomodasi, transportasi, dan layanan pendukung lainnya, yang akan semakin memperkuat posisi Batam sebagai destinasi unggulan di kawasan ASEAN.












