Intuisi.net – Bom besar meledak di sepak bola Indonesia! PSSI akhirnya memutuskan kontrak Patrick Kluivert, legenda Ajax dan Barcelona yang jadi pelatih Timnas Indonesia sejak Januari 2025. Pemecatan ini datang setelah kegagalan memalukan Timnas lolos ke Piala Dunia 2026, tersingkir di Ronde 4 Kualifikasi Zona Asia usai kalah dari Arab Saudi dan Irak. Bukan cuma Kluiv , asistennya Alex Pastoor dan Denny Landzaat juga ikut dipecat.
“Dengan pertimbangan dinamika internal dan visi jangka panjang, kami sepakat berpisah secara damai,” ujar PSSI dalam rilis resmi. Kluiv cs tak lagi menangani Timnas senior, U-23, maupun U-20. Pernyataan ini langsung memicu gelombang reaksi di media sosial, dengan hashtag #KluivOut trending nomor 1 di Indonesia, mengumpulkan lebih dari 250 ribu tweet dalam hitungan jam.
Rapor Merah: Kalah Telak dan Produktivitas Loyo
Kluiv, yang diharapkan bawa keajaiban ala Belanda, malah jadi mimpi buruk. Dalam 8 laga sejak Januari hingga Oktober 2025, Timnas cuma menang 3 kali, imbang sekali, dan kalah 4 kali. Kemenangan diraih atas Bahrain dan China di kualifikasi (masing-masing 1-0) serta pesta gol 6-0 atas Taiwan di laga uji coba. Hasil imbang didapat saat 0-0 lawan Lebanon. Tapi, kekalahan telak jadi sorotan: 1-5 dari Australia, 0-6 dari Jepang, 2-3 dari Arab Saudi, dan 0-1 dari Irak.
Secara rata-rata, Timnas cuma raih 1,25 poin per laga. Produktivitas? Makin parah. Garuda cuma cetak 11 gol, tapi kebobolan 15 kali – hampir 2 gol per pertandingan! Analis sepak bola dari ESPN Asia menyebut taktik Kluiv “ketinggalan zaman” dan “tak mampu manfaatkan talenta diaspora Belanda.” Di konferensi pers usai kalah dari Irak, Kluiv tampak emosional, suaranya bergetar: “Saya bertanggung jawab penuh. Kami coba, tapi sepak bola tak selalu adil.
“Fans Murka: “Pengecut! Mana Hormat untuk Suporter?”
Bukan cuma soal hasil, Kluiv juga kehilangan hati suporter. Insiden di Jeddah pasca-kekalahan dari Irak jadi puncak kekecewaan. Ribuan fans Indonesia, termasuk komunitas Garuda Saudi, rela korbankan waktu, tenaga, dan biaya untuk dukung Timnas di King Abdullah Sport City. Ada yang terinjak-injak, berdesakan dengan security, bahkan ditahan polisi lokal demi Merah Putih. Tapi, dan staf Belandanya memilih diam di bench, tak mendekati tribun untuk menyapa atau minta maaf seperti yang dilakukan pemain macam Thom Haye dan Maarten Paes.
Garuda Saudi langsung meluapkan amarah di Instagram: “Kalian pengecut atau tak peduli? Kami datang penuh semangat, tapi kalian sembunyi tanpa rasa tanggung jawab!” Postingan itu viral, dapat 60 ribu like dalam sehari. Parahnya lagi, Kluiv langsung terbang ke Belanda usai laga, tanpa beri penjelasan resmi ke PSSI atau fans. “Pelatih harus jadi pemimpin, bukan kabur saat gagal,” cuit Ponaryo Astaman, eks kapten Timnas, yang disukai 15 ribu pengguna X.
Di forum Reddit r/indonesianfootball, fans ramai debat: “Kluiv bawa nama besar, tapi taktiknya nol. Shin Tae-yong jauh lebih ngerti Asia!” Legenda Belanda Louis van Gaal ikut komentar di media lokal NOS: “Patrick punya potensi, tapi Asia butuh lebih dari sekadar nama. Ini pelajaran keras.
“Siapa Pengganti? Shin Tae-yong Kembali atau Nama Baru?
PSSI berjanji umumkan pelatih baru dalam 14 hari. Beberapa nama muncul sebagai kandidat kuat:
Shin Tae-yong: Pelatih Korea yang bawa Indonesia ke Ronde 3 Kualifikasi sebelumnya. Baru dipecat Ulsan Hyundai, ia bilang ke media Korea: “Jika PSSI panggil, saya siap kembali.”
Bert van Marwijk: Arsitek Belanda yang sukses dengan UEA dan bawa Belanda ke final Piala Dunia 2010. Pengalaman Asia-nya jadi nilai plus.
Jesus Casas: Eks asisten pelatih Spanyol yang kini tangani Irak. Gaya tiki-taka bisa jadi angin segar.
Opsi Lokal? Indra Sjafri, pelatih sukses U-20, atau Bima Sakti, dianggap bisa bawa semangat nasionalisme.
Ketua PSSI Erick Thohir menegaskan: “Kami mau pelatih yang paham visi besar: naturalisasi cerdas, akademi kuat, dan chemistry tim. Era baru dimulai sekarang!”












