Intuisi.net – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyelesaikan rangkaian kunjungan kerja ke London, Inggris, yang dimulai pada 18 Januari 2026, dengan fokus memperkuat kemitraan strategis antara Indonesia dan Inggris.
Kunjungan ini tidak hanya memperdalam hubungan bilateral yang telah terjalin sejak 1949, tetapi juga membuka peluang baru dalam sektor maritim dan pendidikan tinggi, yang diharapkan memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan pengembangan sumber daya manusia.
Presiden Prabowo tiba di Bandar Udara London Stansted pada Minggu malam waktu setempat, disambut oleh perwakilan pemerintah Inggris dan diaspora Indonesia.
Setibanya di hotel, beliau menyapa mahasiswa dan diaspora, termasuk momen emosional ketika menerima buku dari seorang mahasiswa asal Papua berjudul “We All Want to Live in Peace,” yang mencerminkan komitmen Presiden terhadap perdamaian global.
Kunjungan ini juga menandai diplomasi aktif Indonesia di tengah dinamika global, dengan agenda utama pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Keir Starmer di 10 Downing Street pada 20 Januari.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin menyepakati peningkatan kerja sama strategis di berbagai bidang, termasuk ekonomi, energi terbarukan, kesehatan, sains, bisnis, jasa keuangan, ekonomi digital, infrastruktur, transportasi, pendidikan, pertanian, dan pangan.
Salah satu pencapaian utama adalah nota kesepahaman untuk pembangunan 1.500 unit kapal penangkap ikan modern, yang bertujuan mendorong pertumbuhan sektor perikanan Indonesia sambil menjaga kelestarian sumber daya laut.
Inisiatif ini diharapkan menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan ekspor perikanan, yang belum banyak dibahas dalam liputan media sebelumnya, namun berpotensi menjadi model kolaborasi berkelanjutan antara negara berkembang dan maju.
Selain itu, Presiden Prabowo menekankan penguatan kemitraan pendidikan melalui Russell Group, konsorsium 24 universitas terkemuka di Inggris.
Beliau mengundang mereka untuk mendirikan hingga 10 kampus kelas dunia di Indonesia, yang akan memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas dan mendorong transfer pengetahuan di bidang teknologi dan inovasi.
Pendekatan ini, berdasarkan visi jangka panjang untuk “Indonesia Emas 2045,” menargetkan peningkatan daya saing generasi muda melalui program beasiswa dan riset bersama, aspek yang sering terlewat dalam diskusi bilateral tradisional.
Kunjungan juga mencakup audiensi dengan Raja Charles III di St. James’s Palace, di mana isu lingkungan seperti konservasi Gajah Aceh dibahas, menunjukkan komitmen bersama terhadap keberlanjutan global.
Di sela agenda, Presiden menghadiri forum bisnis dan investasi di Lancaster House, disambut Wakil PM David Lammy, serta jamuan santap siang.
Momen ringan terjadi saat Larry the Cat, kucing resmi Downing Street, ikut menyambut Presiden, menambah nuansa humanis pada pertemuan diplomatik.
Meski ada protes kecil dari kelompok Free West Papua Campaign di luar Downing Street, kunjungan berjalan lancar dan menegaskan posisi Indonesia sebagai aktor kunci di panggung internasional.
Setelah London, Presiden melanjutkan perjalanan ke Swiss untuk menghadiri World Economic Forum (WEF) Davos, memperkuat diplomasi ekonomi global.
Kunjungan ini diharapkan membawa manfaat konkret bagi Indonesia, seperti peningkatan investasi dan transfer teknologi, yang belum sepenuhnya tereksplorasi dalam konteks pasca-pandemi.
Pemerintah Indonesia berkomitmen melanjutkan dialog ini untuk mencapai pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.
Baca juga;
- https://intuisi.net/presiden-prabowo-akan-hadiri-spief-2025/ (meski ini terkait SPIEF 2025 di Juni 2025, bukan Januari 2026; bisa jadi konteks diplomasi global Presiden)
- https://www.presidenri.go.id/ (situs resmi Presiden RI, sumber utama berita kunjungan)












