Intuisi.net – Mengikuti arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, Wakil Menteri Agama Muhaimin Iskandar bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar segera menyiapkan program percepatan penataan keselamatan pesantren di seluruh Indonesia. Langkah ini diambil sebagai respons mendesak atas tragedi runtuhnya bangunan musala tiga lantai di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, yang menewaskan 60 orang dan melukai lebih dari 100 santri serta pengajar.
Tragedi yang terjadi pada 29 September 2025 silam, saat para santri sedang menunaikan salat Ashar berjamaah, disebabkan oleh kegagalan konstruksi akibat pondasi yang tidak mampu menahan beban pengecoran lantai atas. Operasi pencarian dan evakuasi (SAR) gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan telah resmi ditutup pada 7 Oktober 2025, dengan total 60 korban jiwa, 103 luka-luka, serta 4 korban yang masih dalam proses identifikasi. Presiden Prabowo Subianto sendiri telah mengunjungi lokasi dan rumah sakit setempat, menekankan komitmen pemerintah untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
“Menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo, saya bersama Menteri Agama Nassaruddin umar menyiapkan langkah cepat menata pesantren agar tetap aman dan nyaman bagi santri dan para pengajar,” ujar Wakil Menteri Agama Muhaimin Iskandar dalam pernyataan resminya, Rabu (8/10). Penataan ini diprioritaskan pada pesantren-pesantren tua dengan bangunan paling rawan, seperti yang terjadi di Ponpes Al-Khoziny yang didirikan sejak 1927.
Program percepatan ini dimulai hari ini dengan pendataan komprehensif terhadap ribuan pesantren di seluruh negeri. Pendataan akan diikuti audit struktural oleh tim ahli lintas kementerian, termasuk Kementerian Agama, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB). “Perbaikan akan berjalan cepat dan tepat sasaran melalui kolaborasi ini, termasuk penerbitan izin bangunan retroaktif dan subsidi rehabilitasi bagi pesantren yang memenuhi kriteria,” tambah Muhaimin.
Menurut data Kementerian Agama, terdapat lebih dari 28.000 pondok pesantren di Indonesia yang menjadi jantung pendidikan karakter bangsa. “Pesantren adalah jantung pendidikan rakyat. Kita pastikan tetap kuat, aman, dan berdaya,” tegas Muhaimin, menambahkan bahwa pemerintah juga akan melatih pengelola pesantren dalam standar keselamatan bangunan dasar, serta menyediakan dana darurat untuk rekonstruksi.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menambahkan bahwa inisiatif ini tidak hanya reaktif terhadap tragedi Al-Khoziny, tetapi juga bagian dari agenda jangka panjang untuk modernisasi pesantren. “Kami akan bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU) untuk memastikan penataan ini sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan,” katanya.
Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya wali santri dan tokoh agama, untuk mendukung upaya ini. Bagi pesantren yang membutuhkan bantuan, dapat menghubungi hotline Kementerian Agama di 157 atau melalui aplikasi resmi SiPusat.
Tragedi Ponpes Al-Khoziny menjadi pengingat pahit akan pentingnya pemeliharaan infrastruktur di lembaga pendidikan tradisional. Dengan langkah cepat ini, pemerintah berkomitmen menjaga generasi muda tetap aman dalam menimba ilmu agama dan keilmuan umum.












