TANJUNG BALAI KARIMUN, intuisi.net – Ketika Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berdiri di depan tumpukan karung beras sitaan setinggi manusia, ekspresinya bukan marah biasa.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tidak main-main soal ancaman penyelundupan pangan.
Hari ini (19/1/2026), ia melakukan inspeksi mendadak ke gudang penyimpanan Bea Cukai di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, dan langsung menyaksikan barang bukti mencengangkan: sekitar 1.000 ton beras asal luar negeri yang masuk secara ilegal.
Beras-bersas tersebut diduga lolos dari jalur resmi, tanpa karantina pertanian, tanpa izin impor, dan jelas-jelas merugikan petani Indonesia serta mengancam ketahanan pangan nasional.
“Kalau kita diam saja, ini sama dengan membiarkan petani kita mati perlahan di sawah sementara mafia pangan tertawa di perbatasan. Ini bukan lagi soal ekonomi, ini soal harga diri bangsa,” tegas Mentan Amran di depan tumpukan karung beras sitaan.
Dalam kesempatan tersebut, Mentan memerintahkan tiga langkah tegas yang langsung dieksekusi:
- Pemusnahan total seluruh beras ilegal yang sudah disita (termasuk 345 ton yang masih berada di gudang Bea Cukai Karimun).
- Penindakan hukum maksimal terhadap pelaku, bandar, dan jaringan sindikat yang terlibat.
- Penguatan pagar perbatasan pangan dengan pengawasan terpadu 24 jam melibatkan Bea Cukai, Karantina Pertanian, Polri, TNI, dan pemerintah daerah.
Mentan juga menyinggung bahwa wilayah Kepri, khususnya Karimun dan Batam, selama ini menjadi “pintu belakang” favorit penyelundup beras, gula, bawang, hingga daging.
Ia menegaskan, pemerintah pusat tidak akan lagi membiarkan pola lama ini berulang.
“Kita sudah capai surplus beras di 2025. Jangan sampai hasil keringat petani Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, malah dikubur oleh beras selundupan. Tidak akan kami izinkan!” tegasnya.
Kunjungan kerja ini juga dihadiri jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Khusus Kepri, Balai Karantina Pertanian, serta unsur TNI-Polri setempat.
Mentan menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja keras mereka yang berhasil mengamankan barang bukti bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.
Intuisi.net mencatat, ini merupakan sidak ketiga Mentan Amran terkait penyelundupan pangan strategis dalam kurun waktu dua bulan terakhir, setelah sebelumnya di Nunukan (Kaltara) dan Batam.
Pesan yang ingin disampaikan tampak jelas: era mafia pangan sudah berakhir.












