Intuisi.net – Dalam kunjungan kenegaraan penuh makna ke Istana Merdeka, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyepakati penguatan kemitraan strategis bilateral yang mencakup ekonomi, perdagangan, hingga isu global. Pertemuan ini menandai balasan atas kunjungan Prabowo ke Brasil, sekaligus memperbarui visi aliansi yang digagas Lula sejak 2008.
“Saya bangga membalas kunjungan Presiden Prabowo. Kemitraan strategis yang saya luncurkan di Jakarta 17 tahun lalu kini semakin relevan di tengah dinamika dunia,” kata Lula dalam keterangan pers bersama, disambut senyum hangat Prabowo.
Kedua pemimpin menyoroti potensi dua demokrasi raksasa berkembang ini. Dengan populasi mencapai ratusan juta jiwa, Indonesia dan Brasil diharapkan menjadi pilar ekonomi global. “Rakyat kita pantas mendapatkan perdagangan yang tumbuh seiring populasi. Kita akan bekerja keras agar Indonesia-Brasil jadi mitra utama di peta ekonomi dunia,” tegas Lula, disambut anggukan setuju Prabowo.
Fokus Utama: Percepat PTA Mercosur-Indonesia
Sorotan utama adalah penyelesaian Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) antara Mercosur (blok perdagangan Amerika Latin yang dipimpin Brasil) dan Indonesia. Lula berharap negosiasi tuntas sebelum akhir masa jabatannya pada 2026. “Ini bukan sekadar perjanjian, tapi jembatan untuk aliran barang, investasi, dan inovasi,” ujarnya.
Data perdagangan bilateral menunjukkan potensi besar: Pada 2024, nilai perdagangan mencapai US$5 miliar, naik 15% dari tahun sebelumnya, didorong komoditas seperti kedelai Brasil dan minyak sawit Indonesia. PTA diharapkan memangkas tarif hingga 90% untuk ratusan produk, membuka peluang ekspor baru bagi UMKM kedua negara.
Suara Global Selatan: Lawan Kelaparan dan Transformasi Dunia
Sebagai wakil Global Selatan, keduanya bahas agenda internasional. “Indonesia dan Brasil berhak atas posisi layak di dunia yang berubah. Dunia berkembang berutang banyak pada Indonesia,” puji Lula.
Ia juga memuji program makan bergizi gratis Prabowo, yang menjangkau jutaan anak sekolah. “Ini selaras dengan Aliansi Global Melawan Kelaparan dan Kemiskinan yang kami luncurkan di G20 Brasil. Kebijakan ini percepat implementasi global – Brasil siap belajar dan berkolaborasi,” kata Lula.
Prabowo menambahkan, “Kami berkomitmen hilangkan kelaparan sebagai fondasi pembangunan. Kerja sama dengan Brasil akan perkuat rantai pasok pangan berkelanjutan.”
Visi Masa Depan: Kemandirian dan Keseimbangan
Lula menutup dengan nada optimis: “Brasil dan Indonesia akan sebesar yang kita inginkan. Mari perkuat perdagangan, sains, teknologi, budaya, dan politik – agar tak bergantung pada satu negara saja.”
Pertemuan ini hasilkan beberapa MoU, termasuk kerjasama biofuel, pendidikan, dan pertukaran budaya. Analis internasional menyebutnya sebagai “langkah strategis” di tengah ketegangan geopolitik global, potensial tingkatkan pengaruh BRICS dan G20.
Kunjungan Lula berlanjut dengan pertemuan bisnis di Jakarta, dihadiri ratusan pengusaha. Hubungan Indonesia-Brasil, yang lahir dari semangat non-blok, kini siap melesat ke era baru kemandirian.












