Kepri Penyelenggara WAAW Terbesar di Indonesia

Gubernur Ansar Ahmad Pimpin Peringatan WAAW 2025: "Act Now: Lindungi Masa Kini, Amankan Masa Depan" dari Ancaman Superbug!

Gubernur Ansar Ahmad menandatangani komitmen pengendalian penggunaan antibiotik. (Enji/DISKOMINFO KEPRI)

Tanjungpinang, intuisi,net – Di tengah ancaman global yang semakin mengerikan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menjadi pionir nasional dalam memerangi resistensi antimikroba (AMR) atau yang sering disebut “superbug”. Gubernur Kepri Ansar Ahmad memimpin langsung peringatan World Antimicrobial Awareness Week (WAAW) 2025 di Aula Wan Seri Beni, Dompak, Tanjungpinang, Kamis (20/11). Acara ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar se-Indonesia, diikuti lebih dari 1.300 peserta – 422 orang hadir langsung dan 827 daring dari 20 provinsi!

Tema global WAAW tahun ini, “Act Now: Protect Our Present, Secure Our Future” (Bertindak Sekarang: Lindungi Masa Kini, Amankan Masa Depan), menjadi seruan mendesak dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

AMR bukan lagi ancaman masa depan – ia sudah membunuh lebih dari 1,27 juta orang per tahun secara langsung di seluruh dunia (data WHO 2019, dan tren terus meningkat). Tanpa tindakan cepat, proyeksi mengerikan: hingga 10 juta kematian per tahun pada 2050, melebihi korban kanker!

Mengapa AMR Begitu Mematikan dan Mendesak?

  • Antibiotik yang dulu ampuh kini “kebal” karena penggunaan sembarangan, seperti minum antibiotik untuk flu biasa atau peternak yang berlebihan memberi obat pada hewan.
  • Infeksi sederhana seperti luka kecil atau pneumonia bisa berakibat fatal.
  • Di Indonesia, AMR menjadi salah satu penyebab utama kematian di rumah sakit, terutama di wilayah perbatasan seperti Kepri yang rawan masuknya obat ilegal.

Kepala Balai POM Batam, Ully Mandasari, bangga melaporkan: “Kegiatan ini tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Kepri tentang pengendalian antibiotik. Kami kolaborasi lintas sektor dengan pendekatan One Health – kesehatan manusia, hewan, pangan, dan lingkungan jadi satu kesatuan. Total peserta capai 1.300 orang, menjadikan Kepri penyelenggara WAAW terbesar 2025 di Indonesia!”

Acara semakin bermakna dengan penandatanganan komitmen bersama pencegahan AMR oleh tenaga kesehatan, akademisi, organisasi masyarakat, dan mitra seperti Gerakan Pakai Obat Rasional (GP Farmasi).

Deputi Bidang Pengawasan Obat BPOM RI, William Adi Teja, menekankan: “AMR adalah musuh tak kasat mata dengan dampak nyata. Lebih dari 1,2 juta nyawa melayang setiap tahun. Jika tidak bertindak sekarang, 2050 bisa 10 juta kematian! Kami apresiasi Gubernur Ansar atas komitmen kuatnya melalui Surat Edaran pengendalian antibiotik.”

Gubernur Ansar: “Gotong Royong Lawan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Antibiotik!”

Gubernur Ansar Ahmad tak tinggal diam. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya pengawasan obat ilegal yang sering masuk lewat jalur perdagangan internasional Kepri.

“BPOM selalu jadi mitra strategis kami. Banyak UMKM lokal yang produknya lolos sertifikasi berkat bantuan sterilisasi bakteri – kini siap ekspor! Tapi posisi Kepri sebagai pintu gerbang membuat kita rentan obat impor ilegal berbahaya,” ujar Gubernur Ansar.

Beliau menyerukan gerakan nasional: “Pengendalian AMR harus jadi gerakan bersama. Kita ingin Indonesia Emas 2045 – semua hambatan seperti penyalahgunaan antibiotik dan obat ilegal harus kita atasi gotong royong!”

Acara ditutup simbolis dengan penyerahan cinderamata dari Kepala Balai POM Batam kepada Ketua TP PKK Kepri, Dewi Kumalasari Ansar, sebagai bentuk dukungan perempuan dalam edukasi kesehatan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *