intuisi.net – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Hotel Claro, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 31 Januari 2026, menjadi titik balik penting bagi partai anak muda ini.
Kehadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bukan sekadar tamu kehormatan, melainkan suntikan semangat luar biasa yang langsung membakar semangat ribuan kader.
Dalam pidato yang menggebu-gebu—berbeda dari gaya kalem biasanya—Jokowi menyatakan komitmen tegas: “Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI.
Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja keras, bekerja mati-matian untuk PSI!” Seruan ini disambut gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai.
Jokowi bahkan berjanji “turun gunung” kapan pun dibutuhkan, siap keliling 38 provinsi hingga ke kabupaten/kota dan kecamatan jika diperlukan, demi memenangkan PSI di Pemilu 2029.
Rakernas perdana pasca-Pemilu 2024 ini difokuskan pada konsolidasi organisasi masif. Target utama: menyelesaikan struktur partai hingga tingkat desa dan RT/RW pada akhir 2026.
Jokowi menekankan pentingnya pengurus militan dan konsisten, sekaligus berperan sebagai “penawar rindu” bagi kader yang haus arahan dari figur ikoniknya.
Latar Belakang: Dari Gagal 2024 ke Orbit Jokowi
PSI, didirikan 2014 dengan citra anti-korupsi dan inklusivitas generasi muda, gagal lolos parliamentary threshold pada Pemilu 2024.
Namun, sejak Kaesang Pangarep menjadi Ketua Umum pada 2023, partai ini semakin dekat dengan lingkaran Jokowi.
Pemilihan Makassar sebagai tuan rumah Rakernas bukan kebetulan—ada andil Jokowi dalam menentukan lokasi ini, sekaligus strategi ekspansi basis di luar Jawa.
Popularitas Jokowi pasca-presidensi masih tinggi, meski pengaruhnya mulai tergerus di era Prabowo Subianto.
Approval rating akhir masa jabatannya mencapai 75-80%, didorong pencapaian infrastruktur seperti jalan tol dan kereta cepat.
Kehadiran Jokowi di Rakernas dipandang sebagai langkah strategis memanfaatkan “residual power” itu.
Ketua Harian PSI Ahmad Ali menyatakan, deklarasi Jokowi sebagai tokoh utama (kemungkinan Ketua Dewan Pembina atau “Mr. J”) akan langsung mengaktifkan efek ekor jas (coattail effect).
“Efek ekor jasnya langsung nyala, tapi Pak Jokowi sadar satu figur tak cukup tanpa struktur desa,” ujar Ali.
PSI optimistis bisa jadi juara ketiga di 2029, dengan Jokowi sebagai magnet relawan.
Kekuatan, Tantangan, dan Risiko Efek Jokowi
Dimensi Elektoral
Jokowi membawa daya tarik kuat bagi pemilih moderat dan milenial—basis utama PSI. Pidatonya yang penuh semangat bisa menjadi magnet relawan massal, seperti diakui Sekjen PSI Raja Juli Antoni.
Popularitasnya sebagai pemimpin “dekat rakyat” berpotensi menarik suara baru, terutama di daerah pinggiran.
Dimensi Organisasional
Rakernas menargetkan struktur desa rampung akhir 2026—syarat krusial lolos verifikasi KPU untuk Pemilu 2029.
Jokowi disebut sebagai “panglima tempur” yang bisa mempercepat rekrutmen kader. Namun, Jokowi sendiri mewanti-wanti: PSI masih bergantung pada figur sentral (Kaesang dan dirinya).
Tanpa basis massa kuat di pedesaan, PSI berisiko tetap niche anak muda perkotaan.
Risiko Politik
Efek ekor jas sering sementara—contoh: dukungan Jokowi di 2019 bantu PDIP, tapi PSI tetap gagal lolos.
Kini, tanpa kekuasaan eksekutif, pengaruhnya bisa tergerus reshuffle kabinet Prabowo yang menggeser “orang Jokowi”.
Kritik terhadap warisan Jokowi (peningkatan utang negara hingga 3 kali lipat, ketergantungan impor) berpotensi jadi bumerang jika dikaitkan dengan isu nepotisme keluarga.
Pernyataan “mati-matian” juga menandakan Jokowi tak lagi netral, berisiko memicu polarisasi lebih dalam.
Golkar mengingatkan realistis: “Wajar Jokowi bantu anaknya, tapi harus lolos verifikasi pemilu dulu.”
Di sisi positif, komitmen ini bisa memperkuat PSI melawan partai besar seperti PDIP atau Golkar, jika relawan Jokowi termobilisasi efektif.
Euforia atau Ujian Nyata?
Pasca-Rakernas, PSI tampak lebih percaya diri. Dengan Jokowi sebagai “jantung” partai—seperti digambarkan pengamat—potensi kenaikan elektabilitas terbuka lebar.
Namun, sukses bergantung eksekusi: bangun struktur militan, pertahankan idealisme anti-korupsi, dan hindari jebakan dinasti politik.
Seperti kata Jokowi, Indonesia butuh “politik kebaikan” dari partai berenergi muda.
Rakernas Makassar bukan akhir, melainkan awal perjuangan PSI.
Efek Jokowi bisa jadi katalisator kebangkitan—atau hanya bonus sementara jika tak diimbangi kerja keras organisasi.
Baca Juga:
- Situs resmi Partai Solidaritas Indonesia: https://psi.id/
- PSI Umumkan Ketua Umum Baru Hasil Pemilu Raya: https://intuisi.net/psi-umumkan-ketua-umum-baru-hasil-pemilu-raya/












