Intuisi.net – Situasi di Iran terus memanas sejak akhir Desember 2025, dengan protes massal yang dipicu oleh penurunan drastis nilai mata uang rial terhadap dolar AS, inflasi yang mencapai lebih dari 40%, dan kenaikan harga bahan pokok seperti makanan dan energi.
Demonstrasi yang awalnya berfokus pada keluhan ekonomi kini berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim, dengan slogan-slogan seperti “Mati bagi Khamenei” dan seruan kembalinya Pangeran Reza Pahlavi sebagai pemimpin transisi.
Protes telah meluas ke lebih dari 180 kota, termasuk Tehran, Isfahan, Kermanshah, Ilam, Shahrekord, dan wilayah Kurdistan, dengan partisipasi beragam dari pemuda, perempuan, pekerja bazaar, hingga pekerja energi yang melakukan mogok.
Pemerintah Iran, di bawah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, merespons dengan penindasan keras, termasuk penggunaan senjata api, gas air mata, dan penangkapan massal.
Laporan dari berbagai sumber menyebutkan pemadaman internet nasional yang berlangsung lebih dari 120 jam untuk menyembunyikan skala kekerasan.
Korban tewas diperkirakan mencapai ratusan hingga ribuan orang – angka resmi pemerintah Iran menyebut sekitar 2.000 korban, sementara media oposisi seperti Iran International melaporkan hingga 12.000 kematian.
Insiden menonjol termasuk serangan terhadap rumah sakit di Ilam, di mana pasukan keamanan dilaporkan menyerbu fasilitas medis untuk menangkap demonstran yang terluka, memicu kemarahan internasional.
Selain itu, ada laporan tentang perlawanan bersenjata di beberapa daerah, seperti di Ahvaz dan Meheltat, di mana demonstran membakar pos polisi dan membangun barikade.
Dari perspektif pemerintah Iran, demonstrasi ini digambarkan sebagai plot asing yang didalangi oleh AS dan Israel, dengan tuduhan keterlibatan Mossad dalam penyediaan senjata dan aplikasi enkripsi untuk pengorganisasian protes.
Menteri Luar Negeri Iran menyatakan kesiapan untuk perang namun terbuka untuk dialog, sementara demonstrasi pro-pemerintah juga digelar di Tehran.
Di sisi lain, oposisi seperti Pangeran Reza Pahlavi aktif mempromosikan revolusi untuk demokrasi sekuler, dengan seruan mogok kerja dan pujian terhadap sikap Presiden AS Donald Trump yang dianggap mendukung rakyat Iran.
Respons internasional semakin intens. Presiden Trump menyatakan bantuan “sedang dalam perjalanan” bagi demonstran dan memperingatkan intervensi militer jika pembantaian berlanjut, sementara Senator AS Lindsey Graham mendesak tindakan tegas terhadap Khamenei.
Israel dilaporkan mengirim pesan melalui Rusia bahwa mereka tidak berniat menyerang Iran saat ini, meskipun ada peningkatan kehadiran militer AS di wilayah tersebut.
Analis dari lembaga seperti Institute for the Study of War dan Critical Threats mencatat bahwa protes ini lebih berbeda karena konvergensi tekanan internal dan eksternal, dengan risiko eskalasi menjadi konflik lebih luas.
Reformasi ekonomi pemerintah, seperti penghapusan subsidi impor dan penggantian dengan pembayaran tunai langsung, justru memicu lonjakan inflasi makanan lebih lanjut, memperburuk situasi.
Meskipun ada laporan defeksi tentara dan penolakan perintah dari pasukan keamanan, rezim masih mempertahankan kendali atas aparat represifnya.
Baca Juga:
- Situs Resmi Pemerintah Iran (English): https://irangov.ir/en – Untuk pernyataan langsung dari Pemimpin Tertinggi dan respons resmi rezim terhadap krisis internal/eksternal.
- Ketegangan Iran-Israel Memanas: https://intuisi.net/ketegangan-iran-israel-memanas/ – Latar belakang eskalasi militer 2024–2025, termasuk operasi True Promise 3 (Juni 2025), ancaman nuklir, dan dampak ekonomi global yang memperparah situasi Iran saat ini.












