Intuisi.net – Di tengah revolusi teknologi yang dipicu oleh kecerdasan buatan (AI), Generasi Z (Gen Z) muncul sebagai kelompok yang paling bergantung pada kemajuan teknologi ini untuk membentuk masa depan mereka. Dalam wawancara mendalam di podcast Huge If True bersama Cleo Abram, CEO OpenAI Sam Altman menyoroti bahwa Gen Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, memiliki ketergantungan yang mendalam pada AI, baik dalam dunia kerja, kreativitas, maupun inovasi. Meski ketergantungan ini membuka peluang luar biasa, ia juga membawa tantangan baru yang menuntut adaptasi konstan dan kesiapan untuk menghadapi perubahan.
Altman menekankan bahwa Gen Z adalah generasi yang tumbuh dengan teknologi sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Dari media sosial hingga alat-alat berbasis AI, mereka memiliki kepekaan alami untuk memanfaatkan teknologi guna mewujudkan ide-ide kreatif. “Saat ini, seorang individu bisa menciptakan perusahaan bernilai miliaran dolar atau produk inovatif hanya dengan beberapa orang, bahkan sendiri, berkat AI,” ujar Altman. Ketergantungan ini memungkinkan Gen Z untuk mengeksekusi proyek dengan efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya, mengurangi ketergantungan pada tim besar atau sumber daya mahal seperti di era sebelumnya.
Namun, ketergantungan pada AI juga memiliki sisi lain. Altman mengakui bahwa kemajuan AI berpotensi menghapus pekerjaan-pekerjaan rutin, seperti tugas administratif atau pekerjaan berulang di berbagai industri. “Beberapa jenis pekerjaan akan hilang sepenuhnya,” katanya, menegaskan bahwa ini adalah bagian dari siklus alami perubahan dunia kerja. Gen Z, dengan fleksibilitas dan literasi digital mereka, berada di posisi yang lebih baik untuk menghadapi disrupsi ini dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, ketergantungan mereka pada AI menuntut mereka untuk terus memperbarui keterampilan agar tetap relevan. Altman menyoroti bahwa kekhawatiran terbesar justru ada pada pekerja yang lebih senior, yang mungkin enggan mengikuti pelatihan ulang atau peningkatan keterampilan.
Lebih lanjut, Altman menjelaskan bahwa AI tidak hanya menjadi alat untuk efisiensi, tetapi juga katalis untuk kreativitas. Dengan model kecerdasan super seperti yang dikembangkan OpenAI, Gen Z dapat menghasilkan karya seni, mengembangkan aplikasi, atau merancang solusi bisnis dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, ketergantungan ini juga berarti bahwa mereka harus mampu mengelola risiko, seperti potensi ketimpangan ekonomi akibat otomatisasi atau kehilangan privasi akibat penggunaan data oleh AI. “Era ini adalah yang paling menjanjikan dalam sejarah, tetapi juga menuntut tanggung jawab besar,” ujar Altman.
Ketergantungan Gen Z pada AI mencerminkan realitas baru: mereka hidup di dunia di mana teknologi adalah tulang punggung kesuksesan, tetapi juga menuntut kesiapan untuk terus belajar dan beradaptasi. Dengan memanfaatkan AI, Gen Z memiliki peluang untuk memimpin inovasi global, mulai dari menciptakan startup teknologi hingga mengembangkan solusi untuk tantangan dunia, seperti perubahan iklim atau kesehatan. Namun, mereka juga harus waspada agar tidak terjebak dalam ketergantungan berlebihan yang dapat membatasi kemampuan mereka untuk berpikir kritis atau berinovasi tanpa bantuan teknologi.
Masa depan Gen Z, menurut Altman, adalah tentang bagaimana mereka menyeimbangkan ketergantungan pada AI dengan pengembangan keterampilan manusiawi, seperti kreativitas, empati, dan kemampuan berpikir strategis. Dengan pendekatan yang tepat, Gen Z tidak hanya akan bertahan di era AI, tetapi juga menjadi pelopor dalam membentuk dunia yang lebih inovatif dan inklusif.












