Garuda Tanpa Gol, Ranking FIFA Naik Tipis!

Intuisi.net – Timnas Indonesia menahan imbang Lebanon dengan skor 0-0 dalam laga FIFA Matchday yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada Senin malam (8/9/2025). Pertandingan yang disiarkan langsung oleh Indosiar, SCTV, dan Vidio ini sukses menyedot perhatian jutaan pecinta sepak bola Tanah Air, menjadi perbincangan hangat di media sosial hingga viral se-Indonesia. Dengan dominasi penguasaan bola mencapai 81%, Garuda menunjukkan semangat juang tinggi, meski lini depan masih tumpul.

Berikut ulasan lengkap jalannya pertandingan, peringkat FIFA kedua tim, dan evaluasi performa skuad asuhan Patrick Kluivert.

Indonesia dan Lebanon Hanya Terpaut Enam Posisi

Sebelum laga, Indonesia berada di peringkat 118 FIFA dengan 1.154,55 poin, sementara Lebanon menduduki posisi 112 dengan 1.172,44 poin, hanya berbeda enam tangga. Hasil imbang ini memberikan tambahan 0,18 poin bagi Indonesia, sehingga total poin menjadi 1.157,98, cukup untuk naik satu peringkat ke posisi 117, mendekati Kazakhstan. Sementara itu, Lebanon yang sedang dalam tren positif setelah menang 1-0 atas Qatar, juara Piala Asia 2024, tetap kokoh di posisi 112.

Dominasi Indonesia, Tapi Nol Tembakan ke Gawang

Laga berlangsung sengit sejak menit awal. Indonesia, di bawah arahan pelatih Patrick Kluivert, tampil dengan formasi 4-2-3-1, mengandalkan Jay Idzes dan Kevin Diks di lini belakang, serta Miliano Jonathans dan Mauro Zijlstra di lini serang. Lebanon, yang menggunakan formasi 5-3-2 di bawah asuhan Miodrag Radulović, tampil disiplin dengan mengandalkan pertahanan kokoh dan serangan balik cepat melalui Mohamad Haidar dan Karim Darwich.

Indonesia mendominasi penguasaan bola hingga 81%, menciptakan enam peluang emas dibandingkan hanya satu milik Lebanon. Namun, dari sembilan tembakan yang dilepaskan, tidak ada satu pun yang tepat sasaran, menunjukkan kelemahan finishing Garuda. Lebanon hanya mampu melepaskan empat tembakan, dengan satu mengarah ke gawang, tetapi Emil Audero tampil solid di bawah mistar.

Babak pertama berakhir tanpa gol, meski Indonesia kerap mengancam melalui serangan sayap Miliano Jonathans. Di babak kedua, masuknya Marselino Ferdinan, Thom Haye, dan Ramadhan Sananta menambah agresivitas, tetapi peluang-peluang yang tercipta gagal dikonversi menjadi gol. Lebanon, meski tertekan, tetap kokoh di lini belakang dengan Hussein Sharafeddine dan Waleed Shour sebagai tembok pertahanan. Laga ditutup dengan skor kacamata, namun semangat juang Indonesia menuai pujian.

Solid di Belakang, Melempem di Depan

Pelatih Patrick Kluivert memuji mental dan semangat juang pemainnya, menyebut sistem baru yang diterapkan sukses mengontrol permainan. “Terlepas dari hasilnya, kami mau menang. Pemain menunjukkan semangat juang yang tinggi,” ujar Kluivert pasca-pertandingan. Kevin Diks tampil sebagai benteng kokoh di lini belakang, sementara Dean James lugas di lini tengah. Namun, lini depan menjadi sorotan utama karena gagal memanfaatkan dominasi penguasaan bola menjadi gol.

Pelatih Lebanon, Miodrag Radulović, mengakui kualitas individu pemain Indonesia, terutama pemain naturalisasi dari liga-liga Eropa, namun optimisme timnya tetap tinggi. “Kami tahu Indonesia punya pemain dari liga besar, tapi kami datang untuk menang,” katanya. Lebanon memang tampil efisien dengan pertahanan rapat, meski kurang agresif di lini serang.

Dukungan Suporter dan Harapan Jelang Kualifikasi Piala Dunia

Pertandingan ini menjadi trending topic di media sosial, dengan tagar #TimnasDay dan #IndonesiaVsLebanon membanjiri platform X. Suporter memuji dominasi Indonesia, meski banyak yang menyayangkan ketidakmampuan tim mencetak gol. Postingan dari akun @persib

entang kontribusi pemain seperti Marc Klok dan Beckham Putra di laga sebelumnya melawan Chinese Taipei turut memanaskan atmosfer dukungan.

Laga ini menjadi ujian penting bagi Indonesia jelang putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, yang akan dimulai Oktober 2025. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyebut Lebanon sebagai lawan seimbang untuk mengasah performa Garuda, dengan catatan penyelesaian akhir harus diperbaiki. “Tes sebenarnya memang lawan Lebanon, bukan Chinese Taipei,” ujar Erick.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *