Intuisi.net – Euforia sepak bola melanda Kepulauan Cape Verde hari ini setelah “Tubarões Azuis” (Hiu Biru) secara heroik memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dengan kemenangan telak 3-0 atas Eswatini di Estádio Nacional, Praia, pada Senin malam waktu setempat, Cape Verde tak hanya mengunci posisi puncak Grup D kualifikasi CAF, tapi juga menyingkirkan raksasa Afrika, Kamerun, dari peluang lolos langsung. Ini menjadi momen emosional bagi negara kepulauan Atlantik yang berpenduduk hanya sekitar 527.000 jiwa—menjadikannya tim terkecil kedua yang pernah lolos ke turnamen pria terbesar dunia, setelah Islandia pada 2018.
Di tengah hiruk-pikuk perayaan di jalan-jalan Praia, di mana ribuan warga menyambut tim nasional dengan tarian morna dan lagu-lagu patriotik, kisah Cape Verde menjadi simbol harapan bagi negara-negara kecil di sepak bola global. “Ini bukan mimpi, ini kenyataan! Kami membuktikan bahwa ukuran bukan segalanya, tapi hati dan semangat adalah segalanya,” seru pelatih Pedro Leitão Brito, atau yang akrab disapa Bubista, usai laga. Pria berusia 55 tahun asal Cape Verde ini, mantan pemain internasional yang kini menakhodai tim sejak 2021, memuji para pemainnya yang “bertarung seperti hiu lapar di lautan Atlantik.”
Pertandingan terakhir melawan Eswatini berlangsung tegang di babak pertama, di mana angin kencang mengganggu ritme permainan dan Cape Verde gagal memanfaatkan sejumlah peluang emas. Namun, babak kedua menjadi pesta gol: Dailon Livramento membuka keunggulan di menit ke-50 dengan tendangan keras dari luar kotak penalti, diikuti Willy Semedo yang menambah skor di menit ke-65 melalui serangan balik cepat.
Puncaknya, bek veteran Stopira (37 tahun) menyegel kemenangan di injury time dengan sundulan telak dari umpan sudut, memicu kerumunan 15.000 penonton meledak kegirangan. Skor akhir 3-0 itu membuat Cape Verde mengumpulkan 23 poin dari 10 laga, unggul empat poin dari Kamerun yang hanya imbang 0-0 melawan Angola di Yaoundé—hasil yang membuat “Singa Tak Terkendali” harus menunggu jalur playoff untuk berharap lolos.
Bubista, yang sempat dipertanyakan setelah kegagalan lolos ke Piala Afrika 2025, membalas keraguan dengan rekor impresif: lima kemenangan beruntun di kualifikasi, termasuk kemenangan krusial 1-0 atas Kamerun di kandang lawan. Strateginya yang mengandalkan diaspora Cape Verde di Eropa—sekitar 500.000 orang Cape Verdean tinggal di AS saja—telah membuahkan hasil. “Kami merekrut talenta dari seluruh dunia, tapi jiwa kami tetap dari pulau-pulau ini,” ujarnya.
Pemain utama yang menjadi pilar kesuksesan ini adalah Ryan Mendes, kapten dan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Cape Verde dengan 22 gol dari 70 caps. Pemain sayap berusia 34 tahun yang bermain untuk klub Turki, Sivasspor, mencetak gol penentu di laga sebelumnya melawan Libya (imbang 3-3) dan dikenal sebagai “mesin kreativitas” tim.
Kiper Vozinha (34 tahun, FC Porto), dengan distribusi bola akurat, menjadi benteng tak tergoyahkan—terutama karena Cape Verde tak kebobolan sekali pun di lima laga kandang. Bek tengah Roberto Lopes (35 tahun, Al-Wakrah Qatar) dan Garry Rodrigues (34 tahun, sebagai gelandang serang dari Ankaragücü Turki) juga tak kalah vital; Lopes mencetak gol pembuka di banyak laga krusial, sementara Rodrigues, saudara Ryan Mendes, sering kali menjadi pembeda dengan kecepatannya. Generasi muda seperti Livramento (21 tahun, Swansea City) dan Semedo (24 tahun, Reading) menambah semangat segar, membuktikan transisi yang mulus di bawah Bubista.
Secara keseluruhan, kualifikasi Piala Dunia 2026—yang akan diikuti 48 tim di Amerika Utara mulai Juni 2026—kini telah dikonfirmasi oleh 22 negara, termasuk tuan rumah Kanada, Meksiko, dan AS. Dari CONMEBOL, Argentina (juara bertahan), Brasil, Kolombia, Ekuador, Uruguay, Paraguay, dan lainnya telah lolos. Asia menyumbang Jepang, Iran, Uzbekistan (debutan pertama), Korea Selatan, Yordania (debutan kedua), dan Australia, sementara Oseania diwakili Selandia Baru. Afrika sendiri sudah punya sembilan slot, dengan Maroko sebagai yang pertama lolos, diikuti Tunisia, Aljazair, Mesir, Ghana, dan kini Cape Verde sebagai yang kesembilan. Eropa masih dalam persaingan sengit, dengan Inggris dan Prancis hampir pasti lolos.
Bagi Cape Verde, lolosnya ke Piala Dunia bukan hanya prestasi olahraga, tapi juga dorongan ekonomi dan identitas nasional. Dengan populasi setara kota kecil seperti Makassar, negara ini—yang merdeka dari Portugal pada 1975 dan bergabung FIFA pada 1986—telah menempuh perjalanan panjang dari tim amatir menjadi kekuatan Afrika.
“Kami akan bermain untuk seluruh diaspora, untuk setiap Cape Verdean di Boston, Lisboa, atau Dakar,” kata Mendes. Saat undian grup pada 5 Desember di Washington DC mendekat, Tubarões Azuis siap menggigit lebih keras—membuat Piala Dunia 2026 tak terlupakan bagi semua.












