Arab Dominasi Kata Serapan di KBBI

Foto: Istimewa

Intuisi.net – Bahasa Indonesia itu bahasa yang super terbuka dan ramah banget sama pengaruh dari luar. Tiap hari kita pakai banyak kata yang sebenarnya bukan asli dari Indonesia, tapi sudah nyaman banget dipakai sehari-hari sampai rasanya seperti kata asli kita sendiri.

Misalnya aja kata “buku”, “ilmu”, “zaman”, “masjid”, “doa”, “taqwa”, “hikmah”, “kitab”, sampai “sabun”—semua ini asalnya dari bahasa Arab, lho! Dan ternyata, berdasarkan data terbaru Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) per Desember 2025, bahasa Arab menduduki posisi nomor satu sebagai penyumbang kosakata asing terbanyak dengan total 1.037 kata. Jauh di atas bahasa lain!

Berikut 10 besar bahasa asing yang paling banyak menyumbang kata ke KBBI (data per Desember 2025, kompilasi Aku Bahasa):

  1. Arab – 1.037 kata
  2. Latin – 455 kata
  3. Inggris – 374 kata
  4. Sanskerta – 272 kata
  5. Jepang – 223 kata
  6. Prancis – 194 kata
  7. Belanda – 181 kata
  8. Cina – 174 kata
  9. Italia – 90 kata
  10. Jerman – 34 kata

Setelah Arab, bahasa Latin masih kuat dengan istilah-istilah ilmiah dan resmi seperti “agenda”, “video”, “corpus”, atau “status”. Bahasa Inggris sendiri terus naik pesat di era digital ini—kata seperti “download”, “update”, “smartphone”, “feedback”, sampai “hashtag” sudah jadi bahasa sehari-hari anak muda.

Sementara pengaruh Sanskerta masih terasa kuat lewat kata-kata budaya dan filosofi seperti “dharma”, “karma”, “guru”, “swarga”. Bahasa Jepang juga makin mendominasi berkat gelombang budaya pop: “sushi”, “karaoke”, “tsunami”, “anime”, “otaku” sekarang sudah biasa kita dengar di percakapan sehari-hari.

Data ini menunjukkan betapa kaya dan dinamisnya perjalanan bahasa Indonesia. Dari pengaruh agama Islam berabad-abad, peradaban Hindu-Buddha, masa kolonial Belanda, sampai gelombang globalisasi dan budaya pop Jepang serta teknologi Barat—semua ikut membentuk kosakata kita hari ini.

Yang menarik, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tetap menjaga proses penyerapan agar kata-kata asing ini “dibajak” dengan baik: disesuaikan ejaannya, pelafalannya, dan kaidahnya sehingga tetap enak di lidah orang Indonesia tanpa kehilangan identitas aslinya.

Intinya, bahasa Indonesia bukan bahasa yang tertutup atau takut “terkontaminasi”. Justru sebaliknya: ia seperti rumah besar yang selalu terbuka menyambut tamu dari berbagai penjuru dunia, mengambil yang terbaik, menyesuaikannya, lalu menjadikannya bagian dari keluarga. Hasilnya? Bahasa yang hidup, fleksibel, kaya, dan tetap jadi perekat bangsa.

Sumber: Kompilasi data KBBI Edisi V per Desember 2025 oleh komunitas Aku Bahasa

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *