Batam, intuisi.net – Di tengah ancaman banjir musiman yang kerap melumpuhkan Kota Batam, Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, kembali menegaskan komitmennya dengan turun langsung ke lapangan. Pada Senin siang ini, ia meninjau progres pembangunan Jalan Raja Isa dan instalasi box culvert di kawasan Legenda Malaka, area rawan banjir yang sering menjadi momok bagi warga setempat.
Banjir di Batam bukanlah isu baru. Sebagai pusat industri dan perdagangan di Kepulauan Riau, kota ini sering terganggu oleh genangan air yang menyebabkan kemacetan total, kerusakan properti senilai miliaran rupiah, penurunan produktivitas ekonomi, serta risiko kesehatan seperti penyebaran penyakit bawaan air. Di Legenda Malaka dan sekitarnya, sistem drainase usang yang tak mampu menahan debit air hujan tinggi telah memicu genangan berhari-hari, memicu protes dari masyarakat yang merasa terabaikan.
Namun, di bawah kepemimpinan Amsakar, perubahan mulai terlihat. Dengan pendekatan hands-on yang menjadi ciri khasnya, Amsakar tidak hanya membaca laporan, tapi berdiri di bawah terik matahari untuk berdiskusi mendalam dengan tim Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kontraktor, dan para ahli teknis. “Ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tapi investasi untuk masa depan Batam yang lebih aman dan nyaman,” ujar Amsakar tegas di lokasi, sambil memeriksa detail konstruksi.
Proyek ambisius ini mencakup pembangunan lima unit box culvert berukuran raksasa 5×2 meter, dirancang untuk menampung dan mengalirkan air hujan secara efisien. Selain itu, elevasi Jalan Raja Isa akan ditinggikan hingga satu meter, dilengkapi penguatan drainase terintegrasi yang mencegah luapan air ke permukiman dan jalan raya. “Kami targetkan penyelesaian akhir tahun ini. Progres saat ini sudah 70 persen sesuai jadwal, dan saya pastikan kualitas material serta timeline tidak ada kompromi,” tambahnya, menekankan integrasi dengan rencana tata kota berkelanjutan.
Kolaborasi erat dengan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra menjadi pilar kekuatan di balik akselerasi ini. Sementara proyek serupa di daerah lain sering terhambat birokrasi, duet ini memastikan koordinasi lintas sektor berjalan mulus. Hasilnya? Transformasi nyata: dari saluran air yang ditingkatkan kapasitasnya hingga pencegahan banjir yang lebih proaktif, semuanya bertujuan membangun Batam resilien terhadap perubahan iklim.
Warga Legenda Malaka, Bapak Rahman, seorang pedagang lokal, menyambut baik inisiatif ini. “Dulu banjir datang, usaha kami mati suri. Sekarang, dengan Pak Amsakar langsung turun, kami optimis tahun depan musim hujan tak lagi jadi mimpi buruk,” katanya.
Inisiatif Amsakar ini tak hanya menyelesaikan masalah lokal, tapi juga menjadi benchmark nasional untuk pengelolaan banjir urban. Dengan fokus pada partisipasi masyarakat pasca-pembangunan—seperti pemeliharaan bersama drainase—Batam sedang menuju era baru: kota industri yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. BP Batam mengimbau warga untuk tetap waspada dan melaporkan isu drainase melalui saluran resmi, sebagai bagian dari gotong royong membangun kota impian. Langkah ini membuktikan, kepemimpinan lapangan bukanlah slogan, melainkan kunci perubahan hakiki. Batam bangkit, banjir mundur!












