intuisi.net – Iran secara resmi menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat.
Bukan sekadar menolak, Teheran justru mengajukan proposal tandingan berisi lima syarat non-negotiable untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Sikap ini disampaikan melalui media resmi Iran dan dilaporkan secara luas oleh berbagai media internasional seperti The Guardian, Associated Press (AP), Bloomberg, serta Al Jazeera.
Menurut laporan media asing, usulan gencatan senjata AS berupa paket 15 poin disampaikan kepada Iran melalui perantara Pakistan pada akhir Maret 2026.
Isi proposal tersebut mencakup keringanan sanksi, pembongkaran program nuklir Iran, pembatasan program rudal balistik, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pembatasan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Iran menyebut paket itu “sangat maksimalis, tidak realistis, dan tidak masuk akal” serta “berlebihan” mengingat AS dan Israel dinilai kerap melanggar kesepakatan sebelumnya.
Sebuah sumber resmi Iran yang dikutip Fars News Agency dan Press TV menyatakan tegas:
“Iran tidak menerima gencatan senjata. Iran akan mengakhiri perang pada waktu yang dipilihnya sendiri dan hanya jika syarat-syaratnya terpenuhi.”
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan dalam wawancara televisi pemerintah bahwa hingga kini “tidak ada negosiasi dengan musuh” dan Iran “tidak berencana melakukan negosiasi apa pun”.
Iran kemudian merespons dengan proposal tandingan lima poin yang jauh lebih tegas:
- Penghentian total semua tindakan agresi dan pembunuhan terhadap pejabat Iran.
- Jaminan kuat bahwa perang tidak akan terulang lagi di masa depan.
- Pembayaran ganti rugi dan reparasi perang secara penuh.
- Pengakhiran permusuhan di semua front, termasuk melibatkan seluruh kelompok resistensi (seperti Hizbullah).
- Pengakuan internasional atas kedaulatan penuh Iran atas Selat Hormuz.
Sikap ini semakin diperkuat pekan ini ketika Iran kembali menolak tawaran gencatan senjata sementara selama 48 jam yang diajukan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut syarat-syarat AS sebagai “excessive, unrealistic, and unreasonable”.
Sementara diplomasi macet, aksi militer justru semakin intens. Iran melanjutkan serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara Teluk Arab, termasuk serangan yang memicu kebakaran besar di tangki bahan bakar Bandara Internasional Kuwait.
Di sisi lain, Israel dan AS terus melancarkan serangan udara ke infrastruktur Iran, termasuk fasilitas di Isfahan dan Teheran.
Konflik yang meletus sejak akhir Februari 2026 ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent mendekati US$120 per barel karena ancaman penutupan Selat Hormuz – jalur pengiriman 20 persen minyak dunia.
Media internasional juga mencatat bahwa Presiden Trump sempat mengklaim Iran “meminta gencatan senjata dan sangat ingin bernegosiasi”, namun klaim tersebut langsung dibantah keras oleh Teheran sebagai “false and baseless”.
Iran menegaskan kekuasaan akhir berada di tangan Pemimpin Tertinggi dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), bukan presiden.
Sikap tegas Iran ini menunjukkan bahwa upaya diplomasi Washington menghadapi jalan buntu serius.
Bagi pasar global, penolakan ini berarti ketidakpastian energi dunia masih akan berlanjut, termasuk dampaknya terhadap negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Sementara itu, mediator seperti Pakistan dan China masih berusaha membuka jalur dialog, namun hingga saat ini belum ada tanda kemajuan.
Sikap Iran yang “perang hanya berakhir dengan syarat kami” menjadi sinyal kuat bahwa kawasan Timur Tengah masih jauh dari perdamaian, dan segala kemungkinan eskalasi tetap terbuka.
Baca Juga:












