Air Bersih, Ujian Serius Amsakar-Li Claudia

Warga: Ketersedian air bersihJadi Prioritas yang Belum Terpenuhi

Warga Tg. Sengkuang dan Batu Merah menuntut agar air lancar. (22/1/2025)

Batam, intuisi.net – Krisis air bersih yang telah berlangsung hampir setahun di wilayah Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, kembali mencapai puncaknya dengan aksi demonstrasi ratusan warga di depan Kantor BP Batam pada Kamis, 22 Januari 2026.

Aksi ini berujung ketegangan saat warga berhadapan langsung dengan Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra.

Warga mengeluhkan pasokan air yang sering mati total, debit kecil pada jam tertentu, dan ketergantungan pada air galon atau tampungan hujan untuk kebutuhan dasar, termasuk memandikan jenazah.

Demonstrasi ini merupakan kelanjutan dari protes berulang sejak awal 2025.Dalam pertemuan langsung, koordinator aksi Syamsudin menyampaikan tiga tuntutan utama (Tritura):

  • Segera alirkan air bersih secara penuh kepada seluruh warga Batam, khususnya Tanjung Sengkuang.
  • Distribusikan air secara adil, karena air bersih merupakan hak rakyat.
  • Jika tuntutan pertama dan kedua tidak terpenuhi, pimpinan BP Batam segera mundur karena dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM), mengingat air adalah hak dasar manusia.

Warga membandingkan pengelolaan saat ini oleh PT Moya melalui PT Air Batam Hilir (ABH) dengan era PT Adhya Tirta Batam (ATB) yang dinilai lebih baik.

Amsakar Achmad menegaskan komitmen pemerintah untuk menyelesaikan masalah tanpa menghalangi aspirasi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa BP Batam sedang menangani 18 stress area, termasuk Tanjung Sengkuang, dengan distribusi melalui armada mobil tangki air—meski sering tidak mencukupi akibat permintaan tinggi.

Ia meminta aksi tanpa provokasi atau serangan personal. Ketegangan memuncak saat adu argumen:

Syamsudin menilai penjelasan Amsakar tidak sesuai kondisi lapangan, memicu respons emosional Amsakar: “Bapak jangan menyerang personal, Pak Syamsudin.”

Li Claudia Chandra bereaksi: “Bapak jangan nyindir-nyindir” dan “Pak Syamsudin, bapak titipan dari mana?” yang dijawab Syamsudin bahwa aksi murni dari warga.

Aparat kepolisian, dipimpin Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono, berhasil meredam situasi.

Sebelum aksi 22 Januari 2026, BP Batam di bawah koordinasi Ariastuty Sirait telah melakukan sejumlah upaya konkret untuk mengatasi krisis di Tanjung Sengkuang:

  • Interkoneksi pipa (Desember 2025): BP Batam bersama PT ABH memasang interkoneksi pipa DN 63 mm dari jaringan bertekanan tinggi di RW 01 Kelurahan Sengkuang.
  • Pertemuan silaturahmi langsung dengan warga (sejak pertengahan 2025): Ariastuty Sirait memimpin audiensi dan pertemuan dengan warga terdampak di fasum RT/RW setempat.
  • Anggaran solusi permanen (Oktober-November 2025): BP Batam mengalokasikan Rp98 miliar untuk infrastruktur air, termasuk pembangunan jaringan distribusi baru dan perbaikan sistem secara keseluruhan.
  • Peninjauan lapangan bersama pimpinan: Ariastuty mendampingi Amsakar Achmad dalam kunjungan langsung ke lokasi untuk memastikan solusi permanen.

Meski upaya tersebut telah dilakukan, warga belum sepenuhnya puas.

Ketua RW Hamim Masri menilai solusi sementara (mobil tangki) belum menyentuh akar masalah, karena janji pengiriman sering tidak terealisasi di lapangan.

Aksi akhirnya dilanjutkan ke Kantor PT ABH terdekat. Krisis ini menjadi ujian serius bagi kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra.

Di tengah keterbatasan infrastruktur dan anggaran, tekanan warga semakin kuat untuk solusi permanen, termasuk evaluasi pengelolaan PT ABH/PT Moya.

BP Batam diharapkan mempercepat realisasi janji-janji sebelumnya agar kepercayaan masyarakat pulih.

Air bersih bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan hak asasi yang menentukan kualitas hidup warga Batam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *