Batam di Ambang Krisis Air: Amsakar Gesa SWRO & Opsi Lingga

Roadmap Harus Segera Nyata

Istimewa

Batam, intuisi.net- Penurunan muka air Waduk Nongsa hingga 4,5 meter dari normal (kini sekitar 5,5 meter) dan anjloknya produksi instalasi pengolahan air dari 90 liter per detik menjadi hanya 25 liter per detik bukan lagi “gangguan musiman”.

Ini alarm keras. Batam yang hanya mengandalkan tujuh dari delapan waduk penampung air hujan kini menghadapi tekanan ganda: pertumbuhan penduduk, perumahan, dan gelombang investasi data center yang haus air.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, merespons dengan dua jalur utama yang patut diapresiasi: mewajibkan industri data center membangun sumber air mandiri melalui Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), dan membuka kembali wacana penarikan air baku antarpulau dari Kabupaten Lingga.

SWRO: Lindungi Warga, Buka Ruang Investasi

Amsakar tegas: “Investasi tentu kita dorong terus tumbuh di Batam. Namun, kebutuhan pendukungnya juga harus disiapkan secara baik.

Untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita mendorong agar dapat memenuhi kebutuhannya melalui sumber air mandiri dengan teknologi SWRO.”

Kebijakan ini sudah mulai dijalankan. Dari sekitar 10 rencana data center, satu unit yang beroperasi menyambut baik skema mandiri.

DayOne berkomitmen membangun instalasi SWRO senilai sekitar Rp180 miliar yang nantinya diserahkan ke BP Batam.

Targetnya, dalam 2–3 tahun ke depan kapasitas SWRO di KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil mencapai 750 liter per detik pada tahap awal, naik menjadi 1.000 liter per detik.

Langkah ini kritis dan membangun. Data center tidak boleh “mencuri” air waduk milik warga.

Jika kelebihan kapasitas SWRO nanti bisa dialirkan ke jaringan masyarakat, maka investasi digital benar-benar menjadi solusi, bukan beban.

Lingga: Opsi Jangka Panjang yang Masih Wacana

Di sisi lain, Amsakar membuka opsi penarikan air baku dari Kabupaten Lingga (jarak sekitar lima jam perjalanan laut) dan Bintan.

Berdasarkan kajian sebelumnya, Lingga unggul: sumber air melimpah, debit tinggi, jaminan jangka panjang lebih kuat. Bintan lebih murah, tapi sumbernya terbatas.

“Di Lingga, sumbernya banyak, debit airnya tinggi, tapi cost-nya besar. Di Bintan, sumbernya terbatas, cost-nya murah.

Jikalau memang ada investor yang sanggup atau APBN cukup, kita harus memilih Lingga karena ketersediaan jangka panjangnya relatif lebih menjamin,” tegas Amsakar.

Ia mengaku sudah tiga kali bertemu Bupati dan Wakil Bupati Lingga membahas skema pembiayaan dan mitra.

Tim BP Batam diminta segera menyusun roadmap lengkap dengan kajian akademik: kebutuhan investasi, skema pembiayaan, hingga mekanisme teknis pipa bawah laut.

Roadmap Harus Keluar dari Meja Rapat

Di sinilah titik kritisnya. Wacana Lingga sudah pernah dikaji puluhan tahun lalu (bahkan ada studi 1991).

Pembangunan waduk baru memakan waktu minimal tujuh tahun. Jaringan pipa Batam banyak yang berusia puluhan tahun. Sistem SCADA untuk deteksi gangguan real-time masih perlu dihidupkan kembali.

Amsakar mengakui penanganan selama ini masih bersifat parsial, merespons krisis saat terjadi, bukan mencegah.

Karena itu, ia mendorong peta jalan komprehensif dengan tiga pilar: sumber air baku alternatif, peremajaan jaringan, dan pengawasan berbasis SCADA.

Langkah jangka pendek sudah berjalan: interkoneksi pipa dari Waduk Duriangkang ke Nongsa, penambahan armada tangki, peningkatan kapasitas IPA di beberapa titik, dan penanganan 18 area kritis.

Masyarakat di Sambau, Tanjung Sengkuang, Sagulung, dan kawasan lain sudah terlalu lama menunggu air mengalir normal, bukan sekadar “air tangki yang berbau”.

Jalan ke Depan

Amsakar juga membantah isu bahwa data center menjadi penyebab utama kekeringan. Fenomena El Niño dan rendahnya curah hujan memang faktor dominan.

Perusahaan baru sebagian besar masih tahap pembangunan, belum memakai air secara penuh.

Namun, kepercayaan publik hanya bisa dipulihkan dengan transparansi data debit, jadwal distribusi yang pasti, dan roadmap yang terukur bukan sekadar pernyataan.

Batam adalah kota industri dan digital yang ambisius. Ambisi itu hanya akan berkelanjutan jika air bersih tidak lagi menjadi “kerjaan reaktif”. SWRO untuk industri dan opsi Lingga untuk jangka panjang adalah langkah benar.

Sekarang yang dibutuhkan adalah kecepatan eksekusi, kepastian pembiayaan (APBN, investor, atau skema kerja sama), dan komitmen yang tidak berhenti di meja rapat.

Air adalah hak dasar. Batam tidak boleh lagi menunggu hujan atau menunggu protes warga. Roadmap yang kritis, realistis, dan membangun harus segera menjadi kenyataan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *