NasDem Gaspol 7% – PSI Kena Sasar?

Ambang Batas DPR Naik, Partai Muda Terancam Tersingkir

Gambar ilustrasi AI

intuisi.net- Bayangkan DPR seperti sebuah arena gladiator di mana terlalu banyak pejuang justru membuat pertarungan jadi kacau balau, bukan epik.

Itulah gambaran yang diusung Partai NasDem saat mereka getol mendorong kenaikan ambang batas parlemen dari 4% menjadi 7%.

Bukan sekadar angka, ini seperti memasang pagar listrik yang lebih tinggi untuk menyaring siapa saja yang layak masuk ke ‘istana wakil rakyat’.

Ketua Umum NasDem Surya Paloh tegas: “Ini demi efisiensi, bukan ambisi pribadi,” katanya, sambil menekankan bahwa langkah ini bisa menyederhanakan multipartai, mengurangi koalisi gemuk yang sering bikin kebijakan mandek.

Tapi, tunggu dulu – ini bukan cerita dongeng damai. Usulan ini meledak seperti bom waktu di tengah rencana revisi UU Pemilu, memicu reaksi berantai dari partai-partai lain.

  • Gerindra, melalui Ahmad Muzani (yang juga Ketua MPR), langsung angkat suara: “Terlalu tinggi! Ini bisa membunuh peluang partai kecil untuk bertahan.”
  • Demokrat malah lebih sinis, mengingatkan putusan MK yang pernah bilang 4% saja sudah cukup ‘kejam’.
  • PKS setuju dengan nada skeptis: “Cukup 4%, jangan tambah beban.”
  • PDIP dan PAN ikut tolak, sementara Partai Buruh berfantasi liar ingin ambang batas nol persen – mimpi utopia di tengah realitas politik yang ganas.

Di balik layar, ada aroma konspirasi yang menggoda. Banyak pengamat curiga ini adalah ‘serangan halus’ NasDem terhadap PSI, partai muda yang dipimpin Kaesang Pangarep (putra Jokowi).

PSI, yang sering disebut ‘anak emas’ istana, mungkin kesulitan capai 7% di Pemilu 2029 – terutama setelah performa mereka di 2024 yang tak begitu gemilang.

“NasDem lagi gali kuburan buat PSI?” tanya netizen di media sosial, dengan emoji pisang dan tawa.

Ahmad Ali dari PSI balas tantang: “Kami siap bertarung, meski ambang batas naik. Ini bertolak belakang dengan semangat Reformasi yang dulu NasDem perjuangkan.” Seru, kan? Seperti plot serial politik di Netflix, di mana aliansi bisa berubah semalam.

Dampaknya? Pakar seperti Titi Anggraini dari Universitas Indonesia memperingatkan:

“Naik ke 7% berarti jutaan suara rakyat terbuang percuma, menggerus pluralitas ideologi di DPR.”

Di sisi lain, pendukung usulan ini bilang ini obat mujarab untuk ‘penyakit’ DPR: terlalu banyak partai bikin pengambilan keputusan lambat, seperti rapat keluarga besar yang tak pernah selesai.

“Fragmentasi suara menyulitkan stabilitas,” kata seorang pengguna X, sambil usul kembalikan ke era Orde Baru dengan hanya 3 partai.

NasDem tak mundur. Mereka sudah usul ini sejak 2026 awal, bahkan siap jika partai mereka sendiri terdampak – katanya demi ‘kepentingan nasional’.

Apakah ini langkah visioner atau jebakan politik? Yang jelas, ini mengingatkan kita: di dunia politik Indonesia, setiap usulan adalah langkah catur yang bisa mengubah peta kekuasaan.

Pantau terus, karena Pemilu 2029 masih jauh, tapi ‘perang dingin’ sudah dimulai.

Aspek Pendukung NasDem (7%) Penentang
Alasan Utama Menyederhanakan partai, efisiensi keputusan, kurangi koalisi rumit Terlalu tinggi, bunuh representasi, suara rakyat terbuang
Partai Pendukung NasDem, (sebagian Demokrat setuju penyederhanaan) Gerindra, PDIP, PAN, PKS, Demokrat (kritik tinggi), PSI (merasa ditarget)
Dampak Potensial DPR lebih ramping, stabilitas tinggi Partai kecil hilang, demokrasi kurang inklusif
Spekulasi Tekan PSI & ambisi Jokowi Manuver politik pasca-Pemilu 2024

 

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *