Batam, intuisi.net – Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, resmi menanggalkan jabatan strategis sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Keputusan ini bukan sekadar mundur dari struktur partai, melainkan langkah berani yang menandai lahirnya brand politik baru: pemimpin yang memprioritaskan hasil nyata di lapangan ketimbang posisi jabatan partai.
Amsakar Achmad, yang sebelumnya ditunjuk DPP NasDem menggantikan Muhammad Rudi pada Agustus 2025 melalui Surat Keputusan resmi, memilih menolak dan mundur dari posisi tersebut.
Alasannya tegas dan sederhana: “Mengurus partai butuh totalitas, sementara intensitas pekerjaan di Pemkot dan BP Batam sangat tinggi.
Saya pilih fokus menyelesaikan banjir, sampah, dan air bersih bagi warga Batam,” ujar Amsakar dalam klarifikasi resminya hari ini.
Meski demikian, Amsakar menegaskan status keanggotaannya tetap utuh. “Sampai hari ini saya masih anggota NasDem. Belum ada pemikiran ke partai lain. Jangan dipolitisir,” tegasnya, menepis spekulasi liar soal potensi pindah partai.
Keputusan ini muncul di tengah dinamika rumit di internal NasDem Kepri pasca-Pilkada 2024.
Penggantian Rudi—figur kuat yang membesarkan partai di Kepri—dengan Amsakar sempat memicu ketegangan di kalangan kader.
Sebagian loyalis Rudi merasa kehilangan pengaruh, sementara yang lain berharap Amsakar membawa angin segar.
Penolakannya justru menghindari perpecahan lebih dalam; posisi Ketua DPW kini diemban Pietra Machreza Paloh (putra Surya Paloh), menjaga garis “tegak lurus” partai.
Yang menarik, Amsakar bukan politisi karbitan dari mesin partai. Ia tumbuh dari dunia akademisi dan birokrasi—latar belakang yang membuatnya berani melepaskan jabatan bergengsi.
Kemenangannya di Pilwako Batam 2024 dengan suara telak bersama Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra (dari Gerindra) membuktikan kekuatannya: koalisi lintas partai yang pragmatis, bukan ideologis semata.
Di Politik Nasional, NasDem cenderung oposisi. Namun, di level daerah, Nasdem masuk koalisi pemerintahan, Amsakar justru memposisikan diri di tengah: tetap dekat dengan kekuatan penguasa melalui mitra Gerindra, tapi bebas dari tarik-ulur internal partai.
Ini sinyal kuat bahwa arah politiknya kini lebih ke arah pragmatisme rakyat—fokus infrastruktur, ekonomi (pertumbuhan Batam capai 6,89% triwulan III 2025), dan solusi langsung bagi warga.
Pengamat politik lokal, Dr. Sastra Tamimi, S.E, M.Si, menilai langkah ini cerdas. “Ini bukan kelemahan, tapi kekuatan. Di era politik transaksional, sosok technocrat yang rela lepaskan kursi demi kerja nyata justru langka dan bisa jadi magnet simpati publik,” ujarnya.
Dengan mundur dari pucuk pimpinan NasDem Kepri, Amsakar Achmad seolah mengirim pesan jelas: politik bukan soal jabatan tertinggi di partai, melainkan siapa yang benar-benar mengurus rakyat.
Brand politik barunya—Wali Kota anti-drama, pro-solusi—bisa jadi modal kuat menuju 2029, entah tetap di NasDem sebagai kader spesial atau sebagai figur independen-pragmatis yang dilirik koalisi besar.
Batam kini punya pemimpin yang tak lagi sibuk rapat DPC-DPW, tapi sibuk bereskan banjir dan sampah. Itu jauh lebih keren daripada sekadar gelar ketua partai.
Baca Juga:
- Amsakar Achmad Dorong Prestasi Generasi Muda
- Situs Resmi Partai NasDem – Informasi ideologi, sejarah, dan kegiatan partai












