Hari Ibu 2025: Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas

Peran Ibu: Mencetak Generasi Berkarakter untuk Masa Depan

Kasih sayang seorang ibu yang mendampingi perjuangan anaknya hingga meraih gelar sarjana.

Intuisi.net – Setiap tanggal 22 Desember, Indonesia memperingati Hari Ibu sebagai simbol penghormatan terhadap perjuangan perempuan dalam membangun bangsa. Pada 2025 ini, peringatan Hari Ibu ke-97 mengusung tema resmi “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”, yang mengarisbawahi peran strategis perempuan sebagai pilar pembangunan nasional yang berdaulat, maju, adil, dan sejahtera.

Mother’s Day di banyak negara yang lebih fokus pada kasih sayang keluarga, Hari Ibu di Indonesia lahir dari semangat emansipasi dan nasionalisme. Ini adalah monumen perjuangan kolektif perempuan untuk kesetaraan gender, pendidikan, dan partisipasi dalam kemerdekaan.

Kebangkitan dari Pemikiran Kartini

Gerakan perempuan Indonesia bermula pada awal abad ke-20, dipelopori oleh Raden Ajeng Kartini. Melalui surat-suratnya yang dikumpul dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menentang ketimpangan gender, khususnya akses pendidikan bagi perempuan. Ia menekankan bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa, bukan hanya untuk perempuan, tapi juga sebagai pendidik generasi mendatang.

Potret Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia.

Pemikiran Kartini menginspirasi pendirian sekolah khusus perempuan. Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri di Bandung pada 1904, salah satu yang pertama di Indonesia.

Raden Dewi Sartika, pendiri sekolah perempuan pertama di Indonesia.

Organisasi seperti Putri Mardika (1912) dan sekolah-sekolah Kartini di berbagai kota semakin memperkuat gerakan ini.

Pondasi Sejarah: Kongres Perempuan 1928

Sumpah Pemuda Oktober 1928 menjadi insiparsi, perempuan Indonesia menggelar Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Diikuti 30 organisasi dari Jawa dan Sumatra, kongres ini membahas isu krusial: perkawinan anak, poligami, pendidikan perempuan, kesehatan ibu-anak, dan partisipasi dalam perjuangan kemerdekaan.

Hasilnya, dibentuk federasi Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI), yang menyatukan suara perempuan nasional.

Kongres berlanjut pada 1935 dan 1938 memperdalam isu tersebut. Pada Kongres III di Bandung 1938, diputuskan 22 Desember sebagai Hari Ibu, simbol kebangkitan perempuan. Resmi menjadi hari nasional melalui Dekrit Presiden Soekarno No. 316 Tahun 1959.

Tokoh penting seperti Ny. Sukonto, Nyi Hajar Dewantara, Sujatin Kartowijono, dan Maria Walanda Maramis turut berperan besar dalam konsolidasi ini.

Makna Hari Ibu 2025: Perempuan Berdaya untuk Masa Depan

Tema tahun ini menandai 97 tahun perjuangan perempuan, dari merebut hingga mengisi kemerdekaan. Perempuan bukan hanya penopang keluarga, tapi aktor kunci di sektor ekonomi, politik, pendidikan, dan lingkungan.

Kegiatan peringatan Hari Ibu modern di Indonesia, mencerminkan semangat keberdayaan perempuan masa kini.

Di era Indonesia Emas 2045, perempuan berdaya menjadi fondasi utama. Mari rayakan dengan aksi nyata: dukung pendidikan perempuan, kesetaraan gender, dan kontribusi mereka di semua bidang.

Selamat Hari Ibu 2025! Perempuan Indonesia: tangguh, inspiratif, dan penggerak perubahan.

Baca Juga:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *